Sunday, 07 September 2008
Laporan Pengentasan Kemiskinan
By: Abdullah Nicolha
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Utara,Sulawesi Selatan (Sulsel) fokus di bidang pertanian dalam memberantas kemiskinan.
Masalah kemiskinan memang selalu menjadi patokan sebagian besar warga untuk menilai keberhasilan pemerintah dalam memimpin suatu daerah.Peningkatan jumlah masyarakat miskin di setiap daerah biasanya dipengaruhi banyak faktor, termasuk di kota yang baru berusia 9 tahun ini. Jumlah penduduk di Kabupaten Luwu Utara pada 2006 berdasarkan data sensus penduduk (SP) adalah 290.168 jiwa.
Jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan sekitar 89.004 jiwa atau 30,62%. Dari data yang ada, tidak ditemukan adanya peningkatan ataupun penurunan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan karena berdasarkan data rekapitulasi kartu kompensasi BBM (KKB) dan data penerima bantuan langsung tunai (BLT) tidak ada perbedaan signifikan.
“Kami belum mengetahui secara pasti apakah ada penurunan atau peningkatan penduduk miskin, sebab pendataan baru akan dimulai pada Oktober mendatang,” kata Kepala Seksi Usaha Ekonomi Masyarakat Teknologi Tepat Guna (UEMTTG) Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Luwu Utara Misbah kepada SINDO belum lama ini. Angka kemiskinan itu dinilai sangat tinggi dari apa yang telah diperkirakan pemkab setempat. Hal itu disebabkan kenaikan harga barang konsumtif akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Apabila dilihat dari tipologi wilayah permukimannya, ada beberapa daerah yang menjadi konsentrasi yaitu, di pelosok desa, umumnya petani di sana tidak memiliki lahan dan hanya menjadi pekerja. Kelompok kedua adalah daerah di pesisir daerah kabupaten. Umumnya, mereka yang tinggal di pesisir bekerja sebagai nelayan tradisional, pengelola tambak, dan buruh tambak.
Kelompok ketiga adalah di sekitar pusat kegiatan ekonomi seperti pasar. Mereka yang tinggal di sekitar pasar biasanya para pedagang kecil, pedagang kaki lima (PKL), dan buruh. Adapun kelompok keempat adalah di wilayah pegunungan. Masyarakat di pegunungan sulit mendapatkan akses pelayanan dasar karena masih terisolasi, misalnya petani yang memiliki lahan cukup tetapi sulit untuk memasarkan produksinya dan kurangnya sumber daya manusia.
Di Luwu Utara, terdapat tiga wilayah kecamatan yang masih tergolong terisolasi, di antaranya Kecamatan Seko, Rampi, dan Limbong. Tiga kecamatan ini hanya bisa dilalui dengan memakai sepeda motor (ojek) dengan harga yang relatif mahal dibanding dengan daerah lain, yakni berkisar antara Rp400.000–Rp500.000 sekali jalan.
Di daerah tersebut bahkan masih menggunakan sistem barter dan petani masih menggunakan kerbau untuk menggarap sawah mereka. Dalam merealisasikan pembangunan, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara berpedoman pada tujuh dimensi yang ingin dicapai, yaitu religius, maju, sejahtera, dan mandiri di atas landasan agrobisnis dan ekonomi kerakyatan.
Dari kebijakan tersebut, pemerintah setempat memiliki strategi-strategi dasar untuk menanggulangi kemiskinan yang dihadapi masyarakat. Peningkatan kualitas pertanian, salah satunya dengan menggenjot potensi kakao yang ada di daerah tersebut serta mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin terhadap akses-akses seperti pendidikan, kesehatan, kualitas lingkungan hidup, dan pasokan air bersih. Tujuannya agar masyarakat tidak terbebani lagi dengan tingginya biaya kebutuhan dasar tersebut.
Kepala Sub Bidang Data dan Pelaporan Badan Pendapatan Pengelolaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu Utara Muhtar Jaya mengatakan, pada 2008, Rp24,7 miliar dialokasikan untuk sektor pertanian. Melihat pengalokasian dana yang ada saat ini,Pemerintah Kabupaten Luwu Utara dapat dipastikan telah berupaya melakukan pemberantasan kemiskinan dengan mengurangi beban masyarakat, yakni dengan pemberian alat, bibit, dan pupuk bersubsidi.
“ Jadi,itu merupakan tahapan penanganan parsial dan jujur telah terjadi penurunan angka kemiskinan dengan melihat banyaknya masyarakat yang sudah beralih profesi menjadi pegawai,” ungkapnya. Dalam pengentasan kemiskinan, Bupati Luwu Utara HM Luthfi A Mutty mengangkat komoditas andalan pertanian di daerah tersebut, yakni kakao,melalui program pencanangan Luwu Utara sebagai penghasil kakao terbaik nasional pada 2010.
Hal ini karena 80% penduduk Luwu Utara bertumpu di sektor pertanian Luthfi A Mutty optimistis target produksi kakao bakal menjadi yang terbaik di tingkat nasional dalam kurun waktu dua tahun mendatang. “Kemungkinan memang tidak berhasil, tapi satu hal yang perlu kita tangkap,hingga 2007, pemerintah pusat dan provinsi belum pernah berbicara tentang kakao, bahkan presiden,wakil presiden, dan gubernur. Setelah saya gencar bicara soal ini, barulah muncul (banyak yang membicarakan soal pertanian kakao),”paparnya.
Program tersebut kini mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah pusat dan provinsi. Pada 2009, sebanyak 14.000 hektare sawah akan direhabilitasi untuk pertanian kakao. “Sebelum ada bantuan dari pusat, mungkin masih pesimistis, tetapi dengan turun tangannya pemerintah pusat dan provinsi, saya tambah yakin dan optimistis program ini akan terwujud,” ungkapnya.
Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel kemudian mengikutkan Pemkab Luwu Utara menjadi peserta konferensi kakao terkait visi operasional Luwu Utara menjadikan produsen kakao terbaik nasional. Berbagai upaya yang telah dilakukan Pemkab Luwu Utara dalam gerakan Rehabilitasi Massal Menuju Tanaman Kakao Berkualitas.
Untuk program “Menuju Kakao Terbaik Nasional 2010” diperlukan upaya rehabilitasi total dari hulu sampai ke hilir, antara lain dengan penanggulangan bencana alam. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Luwu Utara HM Nur Husain mengaku tidak mengharapkan pada tingkat kuantitas, melainkan kualitas yang memadai.Atas dasar itu, dia berharap agar semua pihak ikut menyukseskan target tersebut.
Ditjen Perkebunan juga telah melakukan verifikasi sekaligus membuka lahan 400 hektare untuk demplot kakao yang ditempatkan di Desa Tarobok, Kecamatan Sabbang (100 Ha); Desa Pengkendekan, Kecamatan Sabbang (100 Ha); Desa Poreang, Kecamatan Bone-Bone (100 Ha); dan Desa Ujung Mattajang, Kecamatan Mappedeceng (100 Ha). (abdullah nicolha)
Monday, September 8, 2008
Kesejahteraan Petani Meningkat dengan Kakao
Sunday, 07 September 2008
PEKERJAAN yang tidak menentu membuat Idham, 49, warga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB),hidup serba kekurangan. Dia terus memutar otaknya untuk menghidupi seorang istri beserta tiga orang putranya.
Dia pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan menggunakan modal dari pemerintah melalui usaha jual beli barang campuran di Lombok. Sadar usahanya tak kunjung mengalami perubahan, Idham pun beralih usaha dengan menjadi buruh tani dengan menggarap lahan sawah milik orang lain. Meski belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, dia tetap bertahan menggeluti profesinya tersebut. Pada 1993, Idham tertarik mengikuti program transmigrasi yang ditawarkan pemerintah setempat ke Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Meski dihantui rasa ragu,tapi dia tetap bertekad mengubah nasibnya dengan mengikuti program transmigrasi. Setelah mengikuti pembinaan sekitar dua tahun,dia resmi menempati rumah barunya di Desa Sepakat, Kecamatan Masamba,Luwu Utara,dan masuk dalam Unit Transmigrasi Buso. Bersama dengan warga transmigrasi lainnya, Idham mengikuti program pertanian sesuai arahan petugas pemerintahan setempat. Mengelola perkebunan kakao merupakan salah satu bidang usaha yang digelutinya.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997 justru membuat para transmigran dibanjiri rezeki lantaran tingginya harga jual hasil perkebunan kakao di pasaran. Berkat penghasilan perkebunan kakao tersebut,Idham bahkan mampu menunaikan ibadah haji pada 1998. Kakao memang merupakan salah satu komoditas utama yang dihasilkan Kabupaten Luwu Utara dan merupakan tanaman perkebunan yang produksinya cukup besar.
Pemkab Luwu Utara sendiri telah membuka lahan transmigrasi dengan luas mencapai 1440 hektare (ha) dari total areal lahan yang disiapkan sebesar 4370 ha. Saat ini, jumlah transmigran yang telah ditempatkan di Luwu Utara mencapai 824 KK atau sebanyak 3.758 jiwa, yang terbagi dalam empat unit transmigrasi (UT) yakni, Buso, Bantimurung, Pongkase, dan Maipi.
Sebagian besar warga transmigran yang kini berada di Bumi I Lagaligo itu adalah mereka yang berasal dari Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Selain mengelola kakao, para transmigran juga mengelola perkebunan kepala sawit yang juga merupakan salah satu komoditas andalan Kabupaten Luwu Utara.
Menurut data Pemkab Luwu Utara,produksi tanaman kelapa sawit setiap tahun mengalami peningkatan. Pada 2006, produksi kelapa sawit tercatat sebanyak 47.367,21 ton. (abdullah nicolha)
PEKERJAAN yang tidak menentu membuat Idham, 49, warga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB),hidup serba kekurangan. Dia terus memutar otaknya untuk menghidupi seorang istri beserta tiga orang putranya.
Dia pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan menggunakan modal dari pemerintah melalui usaha jual beli barang campuran di Lombok. Sadar usahanya tak kunjung mengalami perubahan, Idham pun beralih usaha dengan menjadi buruh tani dengan menggarap lahan sawah milik orang lain. Meski belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, dia tetap bertahan menggeluti profesinya tersebut. Pada 1993, Idham tertarik mengikuti program transmigrasi yang ditawarkan pemerintah setempat ke Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Meski dihantui rasa ragu,tapi dia tetap bertekad mengubah nasibnya dengan mengikuti program transmigrasi. Setelah mengikuti pembinaan sekitar dua tahun,dia resmi menempati rumah barunya di Desa Sepakat, Kecamatan Masamba,Luwu Utara,dan masuk dalam Unit Transmigrasi Buso. Bersama dengan warga transmigrasi lainnya, Idham mengikuti program pertanian sesuai arahan petugas pemerintahan setempat. Mengelola perkebunan kakao merupakan salah satu bidang usaha yang digelutinya.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997 justru membuat para transmigran dibanjiri rezeki lantaran tingginya harga jual hasil perkebunan kakao di pasaran. Berkat penghasilan perkebunan kakao tersebut,Idham bahkan mampu menunaikan ibadah haji pada 1998. Kakao memang merupakan salah satu komoditas utama yang dihasilkan Kabupaten Luwu Utara dan merupakan tanaman perkebunan yang produksinya cukup besar.
Pemkab Luwu Utara sendiri telah membuka lahan transmigrasi dengan luas mencapai 1440 hektare (ha) dari total areal lahan yang disiapkan sebesar 4370 ha. Saat ini, jumlah transmigran yang telah ditempatkan di Luwu Utara mencapai 824 KK atau sebanyak 3.758 jiwa, yang terbagi dalam empat unit transmigrasi (UT) yakni, Buso, Bantimurung, Pongkase, dan Maipi.
Sebagian besar warga transmigran yang kini berada di Bumi I Lagaligo itu adalah mereka yang berasal dari Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Selain mengelola kakao, para transmigran juga mengelola perkebunan kepala sawit yang juga merupakan salah satu komoditas andalan Kabupaten Luwu Utara.
Menurut data Pemkab Luwu Utara,produksi tanaman kelapa sawit setiap tahun mengalami peningkatan. Pada 2006, produksi kelapa sawit tercatat sebanyak 47.367,21 ton. (abdullah nicolha)
Peduli Kebutuhan Warga Miskin
Wawancara: Bupati Luwu Utara HM Luthfi A Mutty
Sunday, 07 September 2008
MENEKAN angka kemiskinan dengan fokus mengembangkan pertanian kakao menjadi tekad bulat Bupati Luwu Utara HM Luthfi A Mutty.Apa saja yang dilakukan?
Apa visi Anda membangun Luwu Utara?
Sebelum saya menjawab itu, kita perlu tahu dulu apa sebenarnya masalah yang dihadapi bangsa kita, permasalahan yang dihadapi bangsa kita ini adalah kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran. Ketiganya saling terkait. Untuk mengatasi masalah ini, kita fokus mengembangkan sektor pertanian kakao.Jadi,visi kita menjadikan Luwu Utara sebagai penghasil kakao terbaik nasional pada 2010. Sedangkan misinya adalah membuat masyarakat Luwu Utara menjadi cerdas dan sejahtera.
Apa hasil yang dicapai selama ini?
Berbicara mengenai perkembangan, banyak hal yang sudah kita capai.Selain di bidang pertanian juga di bidang pendidikan,dengan menggratiskan biaya kepada siswa SD dan SMP yang tidak mampu. Sedangkan di bidang kesehatan, kami memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
Untuk mengentaskan kemiskinan, apa saja programprogram pokok Kabupaten Luwu Utara?
Kami ingin mencoba memulihkan produktivitas kakao, bahkan lebih tinggi dari apa yang pernah dicapai dulu. Sebab, kondisi eksistensi yang ada sekarang, dari 57.000 hektare, sebanyak 15.000 hektare rusak karena bencana alam. Masih ada 42.000 hektare yang produktif, tapi produktivitasnya dari tahun ke tahun selalu menurun.Pada 2003, produktivitasnya rata-rata 1,2 ton per ha per tahun, sekarang hanya rata-rata 400 kg per ha per tahun.Target kita, bagaimana produktivitas itu bisa meningkat, yakni mencapai 2 ton per ha per tahun.
Apakah program tersebut efektif?
Sangat efektif, karena sebagian besar masyarakat di daerah Luwu Utara bertumpu di sektor pertanian.Karena itu, dalam membangun pertanian tidak mungkin tanpa melalui kelompok, untuk itu kita membentuk Gerakan Rehabilitasi Massal Menuju Tanaman Kakao Berkualitas (GermasTakkwa)
Apa saja kendalanya?
Salah satu kendala yang pernah dihadapi adalah adanya pejabat teras Pemprov Sulsel yang mengatakan bahwa kakao di Luwu Utara itu tidak perlu diurusi karena sudah bagus. Pejabat tersebut berarti tidak tahu masalah yang sebenarnya.Kendala lain adalah tengkulak karena selama ini mereka membodohi petani.
Anda puas dengan hasil yang telah diperoleh?
Tidak,pemerintah tidak boleh puas.Ini masih jauh,apa yang ingin dipuaskan. Masyarakat masih miskin, pemerintah tidak boleh puas. Kalau pemerintah puas, itu sudah ‘kiamat’, jadi kalau puas tidak berpikir lagi.
Pemerintah tidak boleh berhenti berpikir.Kalau pemerintah berhenti berpikir, berarti pemerintahannya apatis dan stagnan. Pemerintah itu,menurut amanah konstitusi, bertugas menyejahterakan rakyat. Jadi, kalau rakyat sudah sejahtera, tahap berikutnya adalah mencari cara agar masyarakat bisa menyekolahkan anaknya. (abdullah nicolha).
Sunday, 07 September 2008
MENEKAN angka kemiskinan dengan fokus mengembangkan pertanian kakao menjadi tekad bulat Bupati Luwu Utara HM Luthfi A Mutty.Apa saja yang dilakukan?
Apa visi Anda membangun Luwu Utara?
Sebelum saya menjawab itu, kita perlu tahu dulu apa sebenarnya masalah yang dihadapi bangsa kita, permasalahan yang dihadapi bangsa kita ini adalah kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran. Ketiganya saling terkait. Untuk mengatasi masalah ini, kita fokus mengembangkan sektor pertanian kakao.Jadi,visi kita menjadikan Luwu Utara sebagai penghasil kakao terbaik nasional pada 2010. Sedangkan misinya adalah membuat masyarakat Luwu Utara menjadi cerdas dan sejahtera.
Apa hasil yang dicapai selama ini?
Berbicara mengenai perkembangan, banyak hal yang sudah kita capai.Selain di bidang pertanian juga di bidang pendidikan,dengan menggratiskan biaya kepada siswa SD dan SMP yang tidak mampu. Sedangkan di bidang kesehatan, kami memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
Untuk mengentaskan kemiskinan, apa saja programprogram pokok Kabupaten Luwu Utara?
Kami ingin mencoba memulihkan produktivitas kakao, bahkan lebih tinggi dari apa yang pernah dicapai dulu. Sebab, kondisi eksistensi yang ada sekarang, dari 57.000 hektare, sebanyak 15.000 hektare rusak karena bencana alam. Masih ada 42.000 hektare yang produktif, tapi produktivitasnya dari tahun ke tahun selalu menurun.Pada 2003, produktivitasnya rata-rata 1,2 ton per ha per tahun, sekarang hanya rata-rata 400 kg per ha per tahun.Target kita, bagaimana produktivitas itu bisa meningkat, yakni mencapai 2 ton per ha per tahun.
Apakah program tersebut efektif?
Sangat efektif, karena sebagian besar masyarakat di daerah Luwu Utara bertumpu di sektor pertanian.Karena itu, dalam membangun pertanian tidak mungkin tanpa melalui kelompok, untuk itu kita membentuk Gerakan Rehabilitasi Massal Menuju Tanaman Kakao Berkualitas (GermasTakkwa)
Apa saja kendalanya?
Salah satu kendala yang pernah dihadapi adalah adanya pejabat teras Pemprov Sulsel yang mengatakan bahwa kakao di Luwu Utara itu tidak perlu diurusi karena sudah bagus. Pejabat tersebut berarti tidak tahu masalah yang sebenarnya.Kendala lain adalah tengkulak karena selama ini mereka membodohi petani.
Anda puas dengan hasil yang telah diperoleh?
Tidak,pemerintah tidak boleh puas.Ini masih jauh,apa yang ingin dipuaskan. Masyarakat masih miskin, pemerintah tidak boleh puas. Kalau pemerintah puas, itu sudah ‘kiamat’, jadi kalau puas tidak berpikir lagi.
Pemerintah tidak boleh berhenti berpikir.Kalau pemerintah berhenti berpikir, berarti pemerintahannya apatis dan stagnan. Pemerintah itu,menurut amanah konstitusi, bertugas menyejahterakan rakyat. Jadi, kalau rakyat sudah sejahtera, tahap berikutnya adalah mencari cara agar masyarakat bisa menyekolahkan anaknya. (abdullah nicolha).
Pasangan Perisai Tak Tingkatkan Sosialisasi
Sunday, 07 September 2008
LUWU(SINDO) – Duet pasangan calon bupati dan wakil bupati Luwu Rischal Anton Pasombo-Sahardi Mulia yang lebih dikenal dengan nama Persaudaraan Rischal-Sahardi (Perisai), memilih tidak meningkatkan sosialisasi paket dan memanfaatkan momen bulan Ramadan.
”Gerakan Perisai dalam bulan Ramadan ini tetap seperti biasa. Kami tidak ingin salat tarawih keliling dikaitkan dengan sosialisasi Pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah ini,” kata calon bupati Luwu Rischal kepada SINDO di Luwu,kemarin.
Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Perisai Arsan Abbas menyatakan, pihaknya saat ini tetap menyosialisasikan paket ke masyarakat sesuai aturan yang ada. ”Kami tetap minta dukungan masyarakat sesuai hati nurani bukan janji- janji,” ucap Arsan kepada SINDO di posko induk Perisai,belum lama ini.
Perisai selama ini menyosialisasikan programprogramnya melalui pendekatan ke masyarakat apabila nanti terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Luwu periode 2009–- 2014. ”Program utama kami, yaitu pengembangan pertanian di daerah Luwu karena setelah diamati,potensi pertanian yang dimiliki daerah ini kurang mendapat perhatian pemerintah daerah,”ujarnya.
Paket yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) ini akan memfokuskan pembangunan pada sektor pertanian dan akan mendukung program kesehatan dan pendidikan gratis.
”Kami memilih pertanian karena sebagian besar masyarakat Luwu bertumpu pada sektor pertanian,” kata Rischal. Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Perisai Basrum Dg Siatta mengatakan, pihaknya saat ini sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat mulai dari tingkat kabupaten hingga ke pelosok desa.
”Saat ini kami sedang memasuki tahap pemantapan kepada masyarakat yang siap mendukung dan akan memenangkan paket Perisai pada Pemilu Kepala Daerah Luwu ini,”ucapnya.
Dari perkembangan politik yang ada di masyarakat saat ini dan dukungan mereka, pihaknya yakin dapat meraih suara di atas 30%. ”Yang jelas, kami ingin menang guna melakukan perubahan di semua sektor dan pengembangan pertanian,”tuturnya. (abdullah nicolha)
LUWU(SINDO) – Duet pasangan calon bupati dan wakil bupati Luwu Rischal Anton Pasombo-Sahardi Mulia yang lebih dikenal dengan nama Persaudaraan Rischal-Sahardi (Perisai), memilih tidak meningkatkan sosialisasi paket dan memanfaatkan momen bulan Ramadan.
”Gerakan Perisai dalam bulan Ramadan ini tetap seperti biasa. Kami tidak ingin salat tarawih keliling dikaitkan dengan sosialisasi Pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah ini,” kata calon bupati Luwu Rischal kepada SINDO di Luwu,kemarin.
Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Perisai Arsan Abbas menyatakan, pihaknya saat ini tetap menyosialisasikan paket ke masyarakat sesuai aturan yang ada. ”Kami tetap minta dukungan masyarakat sesuai hati nurani bukan janji- janji,” ucap Arsan kepada SINDO di posko induk Perisai,belum lama ini.
Perisai selama ini menyosialisasikan programprogramnya melalui pendekatan ke masyarakat apabila nanti terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Luwu periode 2009–- 2014. ”Program utama kami, yaitu pengembangan pertanian di daerah Luwu karena setelah diamati,potensi pertanian yang dimiliki daerah ini kurang mendapat perhatian pemerintah daerah,”ujarnya.
Paket yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) ini akan memfokuskan pembangunan pada sektor pertanian dan akan mendukung program kesehatan dan pendidikan gratis.
”Kami memilih pertanian karena sebagian besar masyarakat Luwu bertumpu pada sektor pertanian,” kata Rischal. Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Perisai Basrum Dg Siatta mengatakan, pihaknya saat ini sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat mulai dari tingkat kabupaten hingga ke pelosok desa.
”Saat ini kami sedang memasuki tahap pemantapan kepada masyarakat yang siap mendukung dan akan memenangkan paket Perisai pada Pemilu Kepala Daerah Luwu ini,”ucapnya.
Dari perkembangan politik yang ada di masyarakat saat ini dan dukungan mereka, pihaknya yakin dapat meraih suara di atas 30%. ”Yang jelas, kami ingin menang guna melakukan perubahan di semua sektor dan pengembangan pertanian,”tuturnya. (abdullah nicolha)
Bupati Lutim Bantu Warga Miskin di Burau
Sunday, 07 September 2008
MALILI (SINDO) – Bupati Luwu Timur (Lutim) Andi Hatta Marakarma memberikan bantuan kepada para warga miskin yang berada di Kecamatan Burau saat menggelar safari Ramadan bersama para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lingkup Pemkab Lutim, kemarin.
Pemberian bantuan tersebut dikemas dalam bentuk bingkisan sebagai bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada warga kurang mampu dan merupakan ajang silaturahmi masyarakat Burau dengan camat yang baru. ”Camat Burau sebelumnya, Ansar Rachman dimutasi ke Inspektorat dan digantikan oleh Muh Salman,” kata Bagian Humas Lutim Yulius Patappa kepada SINDO,kemarin.
Selainitu,DewanPengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Luwu Timur,juga menyalurkan dana BAZ kepada masing-masing empat orang guru mengaji, empat orang pegawai sa’ra dan satu orang untuk siswa berprestasi.
Bupati Lutim Andi Hatta Marakarma menyatakan, safari Ramadan merupakan agenda rutin setiap tahun yang dilakukan oleh Pemkab Lutim sebagai ajang silaturahmi sekaligus menjadi ajang interaksi antara pemerintah dan masyarakat untuk mendapatkan masukan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya.
Menurut Hatta,selama kurang lebih tiga tahun memimpin Lutim bersama Wakil Bupati Saldy Mansyur, telah banyak pembangunan yang dilakukan dan hasilnya telah dinikmati oleh masyarakat, namun ternyata masih banyak yang perlu dilakukan untuk kepentingan masyarakat.
”Oleh karena itu, dukungan dan partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk memberikan masukan bahkan kritikan kepada pemerintah daerah demi perbaikan di masa mendatang,”katanya.
Khusus untuk pembangunan di Kecamatan Burau, selama kurun waktu tiga tahun menjabat, lanjut Hatta, sedikitnya dana yang masuk ke daerah ini berkisar Rp25 miliar yang digunakan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada di wilayah ini.
”Makanya, kami minta masyarakat untuk mengawasi penggunaannya sesuai dengan keinginan masyarakat setempat,” kata Hatta. Kepada Camat Burau, Bupati meminta agar selalu berada di lapangan untuk mengetahui apa yang menjadi kesulitan warga serta peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
”Jangan menganggap diri lebih hebat dan tahu segalanya, tetapi sebagai kader muda harus lebih banyak belajar dari masyarakat dan hendaknya menjadikan masyarakat sebagai mitra.Yang lebih penting adalah layanilah warga dengan tulus dan ikhlas,” kata orang nomor satu Lutim ini.
Hatta juga menyebutkan, pada anggaran 2009 ini, program pemerintah akan lebih banyak berpihak kepada kepentingan masyarakat seperti pemberian santunan kepada warga yang meninggal, fasilitas ambulans bagi warga yang membutuhkan, dan pemberian KTP dan Akte Kelahiran gratis bagi masyarakat. (abdullah nicolha)
MALILI (SINDO) – Bupati Luwu Timur (Lutim) Andi Hatta Marakarma memberikan bantuan kepada para warga miskin yang berada di Kecamatan Burau saat menggelar safari Ramadan bersama para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lingkup Pemkab Lutim, kemarin.
Pemberian bantuan tersebut dikemas dalam bentuk bingkisan sebagai bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada warga kurang mampu dan merupakan ajang silaturahmi masyarakat Burau dengan camat yang baru. ”Camat Burau sebelumnya, Ansar Rachman dimutasi ke Inspektorat dan digantikan oleh Muh Salman,” kata Bagian Humas Lutim Yulius Patappa kepada SINDO,kemarin.
Selainitu,DewanPengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Luwu Timur,juga menyalurkan dana BAZ kepada masing-masing empat orang guru mengaji, empat orang pegawai sa’ra dan satu orang untuk siswa berprestasi.
Bupati Lutim Andi Hatta Marakarma menyatakan, safari Ramadan merupakan agenda rutin setiap tahun yang dilakukan oleh Pemkab Lutim sebagai ajang silaturahmi sekaligus menjadi ajang interaksi antara pemerintah dan masyarakat untuk mendapatkan masukan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya.
Menurut Hatta,selama kurang lebih tiga tahun memimpin Lutim bersama Wakil Bupati Saldy Mansyur, telah banyak pembangunan yang dilakukan dan hasilnya telah dinikmati oleh masyarakat, namun ternyata masih banyak yang perlu dilakukan untuk kepentingan masyarakat.
”Oleh karena itu, dukungan dan partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk memberikan masukan bahkan kritikan kepada pemerintah daerah demi perbaikan di masa mendatang,”katanya.
Khusus untuk pembangunan di Kecamatan Burau, selama kurun waktu tiga tahun menjabat, lanjut Hatta, sedikitnya dana yang masuk ke daerah ini berkisar Rp25 miliar yang digunakan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada di wilayah ini.
”Makanya, kami minta masyarakat untuk mengawasi penggunaannya sesuai dengan keinginan masyarakat setempat,” kata Hatta. Kepada Camat Burau, Bupati meminta agar selalu berada di lapangan untuk mengetahui apa yang menjadi kesulitan warga serta peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
”Jangan menganggap diri lebih hebat dan tahu segalanya, tetapi sebagai kader muda harus lebih banyak belajar dari masyarakat dan hendaknya menjadikan masyarakat sebagai mitra.Yang lebih penting adalah layanilah warga dengan tulus dan ikhlas,” kata orang nomor satu Lutim ini.
Hatta juga menyebutkan, pada anggaran 2009 ini, program pemerintah akan lebih banyak berpihak kepada kepentingan masyarakat seperti pemberian santunan kepada warga yang meninggal, fasilitas ambulans bagi warga yang membutuhkan, dan pemberian KTP dan Akte Kelahiran gratis bagi masyarakat. (abdullah nicolha)
Subscribe to:
Posts (Atom)