Sunday, January 4, 2009

Helmi Dibunuh dengan Cara Dicekik

Monday, 05 January 2009

LUWU (SINDO) – Misteri pembunuhan bocah Helmi, 9, yang diduga dilakukan saudara angkatnya sendiri Victor alias Pikko, 13,mulai terkuak.Warga Dusun Bangkorang Desa Malenggang Kecamatan Bupon Kabupaten Luwu, mengaku membunuh Helmi dengan cara mencekik leher korban.

Dalam pemeriksaandi Mapolres Luwu, pada Minggu (28/12) lalu pelaku mengaku mengajak korban ke pinggir sungai yang ada di sekitar dusun tersebut. Di lokasi itu, Pikko mencekik korban dari belakang dengan lengannya hingga tewas. Korban yang sudah tewas ditinggalkan begitu saja di pinggir sungai dan dia langsung pulang ke rumahnya seakan tidak terjadi apa-apa.

Pikko mengatakan,dia membunuh adik angkatnya karena sakit hati.Adiknya yang duduk di kelas IV SD Bangkorang itu sering mengejek dan mengusirnya dari rumah. ”Motif pembunuhan yang dilakukan tersangka karena hanya persoalan sepele, yaitu gara-gara korban selalu mengejek tersangka dan selalu mengusir tersangka dari rumahnya.

Karena kesal diperlakukan seperti itu Pikko lalu mengajak Helmi ke suatu tempat yang sunyi (pinggir sungai) dan langsung mencekiknya,” kata Kasat Reskrim Luwu Aska Mappe kepada wartawan di Mapolres Luwu, kemarin. Sebagaimana diberitakan sebelumnya Pikko yang tidak lain adalah kakak angkat korban.

Beberapa bulan lalu, nenek korban, Kori, 55, mengangkat Pikko sebagai anak dan tinggal di rumahnya bersama dengan cucunya sendiri Helmi.Bocah sembilan tahun ini sejak dua tahun lalu diambil neneknya setelah ayah Helmi, Andarias menikah lagi dengan perempuan lain.

Kori mengangkat Pikko sebagai anak karena orang tua kandung pelaku sudah lama meninggal.Kori mengambil dan mengajaknya tinggal bersama. Penemuan mayat korban di tengah hutan dengan kondisi mengenaskan,karena sebagian organ tubuhnya tercabik pada Jumat (2/1), sempat menggemparkan warga.

Dan beredar isu jika putri dari Andarias itu adalah korban mutilasi. Namun, pihak kepolisian secara tegas membantah jika pembunuhan itu disertai dengan mutilasi. Dia menyatakan, kondisi anggota tubuh korban yang tercabik-cabik tersebut karena mayat korban sudah lama membusuk dan dicabik-cabik anjing.

”Korban ditemukan oleh warga karena dari lolongan suara anjing yang ada di sekitar jasad korban di dekat sungai di dusun Bangkorang. Untuk kasus ini sama sekali tidak demikian (mutilasi),” kata Aska Mappe kepada SINDO. Murid kelas IV SD Bangkorang, Desa Malenggang,Kecamatan Bupon itu dinyatakan hilang sejak hari Minggu (28/12/2008) lalu.

Sebelumnya, Helmi terlihat bermain di halaman rumah sebelum pelaku mengajaknya ke pinggir sungai.Pihak keluarga sudah berupaya melakukan pencarian ke rumah tetangga dan teman korban,namun tidak ketemu. Selama masa pencarian, Kori, nenek korban sedikitpun tidak menaruh curiga dengan Pikko.

Tersangka tidak memperlihatkan tingkah laku mencurigakan. ”Selama dalam pencarian tidak ada rasa curiga kalau dia pelakunya. Bahkan, dia juga ikut mencari,”kata Kori yang ditemui di kediamnnya, kemarin. Kecurigaan baru muncul saat mayat Helmi ditemukan, Pikko menghilang dari rumah.

”Hari itu juga, kami langsung melakukan pencarian terhadap pelaku dan baru ditemukan dini hari sekitar pukul 04.00 Wita dan langsung dibawa ke kantor di sana dia mengakui perbuatannya,” kata Aska. Hasil penyidikan Polres Luwu menyatakan, dari tubuh korban tidak ada bekas pemukulan di tubuh korban sebagaimana pengakuan awal tersangka bahwa dia membunuh adiknya dengan dipukul memakai batu.

”Tidak ada tanda tanda lain, hanya tanda cekik dan binatang (anjing),” kata Kasat Reskrim yang baru menjabat di Luwu ini. Dia juga menyatakan, akan melakukan reka ulang terhadap pembunuhan yang menimpa siswi SD Bangkorang tersebut setelah berkasnya rampung.

Sementara itu, Kapolres Luwu Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Komisaris menyatakan, pihaknya akan segera menyelesaikan kasus tersebut dalam waktu dekat ini. ”Kami akan mengejar waktu untuk menyelesaikannya, kira-kira dalam sepekan sudah selesai,”katanya kepada SINDO,kemarin.

Kapolres juga menyatakan, pelaku akan dijerat dengan hukuman diatas lima tahun penjara. Kendati demikian, mengingat pelaku masih dibawah umur maka pihaknya akan menyerahkannya ke pengadilan. ”Yang jelas diatas lima tahun, tetapi itu tergantung keputusan pengadilan karena anak itu masih berumur 13 tahun,tetapi akan tetap ditindak sesuai dengan aturan yang ada,” jelas AKBP Komisaris. (abdullah nicolha/asdhar)

Saturday, January 3, 2009

Helmi Dibunuh Saudara Angkatnya Sendiri

Sunday, 04 January 2009

LUWU (SINDO) – Pelaku pembunuhan Helmi, bocah sembilan tahun di Bangkorang, Desa Malenggang, Kecamatan Bupon,Kabupaten Luwu,berhasil diringkus polisi, sekitar pukul 04.00 dini hari kemarin.

“Kami berhasil menangkap seorang anak berusia 13 tahun yang diduga pelaku pembunuhan bernama Pikko alias Viktor di Dusun Bangkorang, Melenggang, Kecamatan Bupon, dini hari kemarin dan langsung diamankan di Mapolres Luwu,”kata Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Bupon Ajun Komisaris Polisi (AKP) Munasir kepada SINDO kemarin.

Pikko merupakan kakak angkat korban.Beberapa bulan lalu, nenek korban mengangkat Pikko sebagai anak dan tinggal di rumahnya bersama dengan cucunya Helmi. Helmi sejak dua tahun lalu diambil neneknya setelah ayah Helmi,Andarias, menikah lagi dengan perempuan lain.

Dalam pemeriksaan di hadapan polisi, Pikko mengakui perbuatannya. Dia mengatakan, membunuh korban karena merasa sakit hati. Adik angkatnya itu selalu mengusirnya dari rumah. Sekadar diketahui, Helmi ditemukan oleh warga Subuh, 44, dengan kondisi mengenaskan di tengah hutan Desa Mallenggang Noling, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu,Jumat (2/1) sekitar pukul 14.00 Wita.

Korban ditemukan dalam keadaan beberapa organ tubuh terpisah dari badannya. Murid kelas IV SD Bangkorang, Desa Malenggang,Kecamatan Bupon itu dinyatakan hilang sejak hari Minggu (28/12/2008) lalu. Sebelumnya, Helmi terlihat bermain di halaman rumah. Pihak keluarga sudah berupaya melakukan pencarian ke rumah tetangga dan teman korban,namun tidak ketemu.

Kabar hilangnya putri Andrias tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan pemerintah setempat untuk membantu melakukan pencarian. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, melihat kondisi korbanyangditemukandalam keadaan terpotong, sempat beredar kabar jika Helmi dimutilasi.

Namun, dengan tertangkapnya Pikko, Kapolres Luwu AKBP Komisaris membantah.“ Mana mungkin anak berusia 13 tahun bisa melakukan mutilasi,”ujarnya. Menurutnya, hasil penyidikan yang dilakukan, korban diketahui tewas setelah mendapat pukulan benda keras pada bagian punggungnya.

Sementara bagian tubuh korban yang hilang,menurut Komisaris, disebabkan karena binatang buas. “Diperkirakan,korban tewas akibat pukulan benda keras pada bagian punggung. Banyaknya bagian tubuh korban yang hilang itu disebabkan karena dimakan oleh anjing liar yang banyak terdapat di dalam hutan tempat korban ditemukan, ”ungkapnya.

Sementara itu,Pikko yang ditemui di sel Mapolres Luwu mengakui, dirinya tidak memiliki niat untuk membunuh adik angkatnya itu.Menurutnya, tindakan yang dilakukan itu karena sakit hati terhadap korban yang beberapa kali mengusirnya tinggal serumah dengannya.“Saya sebenarnya hanya mau memukulnya karena sakit hati sudah diusir beberapa kali,” ungkapnya sembari menyesali. (asdhar/ abdullah nicolha)

Friday, January 2, 2009

Bocah 9 Tahun Tewas, Diduga Korban Mutilasi

Saturday, 03 January 2009

LUWU (SINDO) – Helmi, bocah perempuan berusia sembilan tahun diduga menjadi korban mutilasi.Potongan mayat anak perempuan tersebut ditemukan warga Desa Mallenggang, Noling, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu, kemarin.


Mayat Helmi ditemukan dalam kondisi mengenaskan di dalam hutan yang berada sekitar tujuh kilometer dari kampung tempat tinggal korban. Menurut Andarias, 52, ayah korban, saat ditemukan kedua tangan korban dalam keadaan terpotong. Selain itu, seluruh jari kaki korban juga diketahui hilang. Andarias mengatakan, korban hilang sejak hari Minggu (28/12) lalu,saat sedang bermain di halaman rumahnya. Ke-tika itu, keluarga korban mencoba untuk mencari di sekitar rumah dan beberapa rumah temannya.

”Kami sebenarnya sudah pasrah atas kehilangan anak kami,namun setelah mendapat laporan ada mayat yang ditemukan oleh warga,kami langsung menaruh curiga jika itu adalah anak saya,” ujar Andarias yang mengaku masih trauma atas kejadian yang menimpa putrinya itu. Warga penemu jenazah, Subuh, 44, mengaku menemukan korban saat sedang mencari kayu bakar di lokasi sekitar pukul 14.00 Wita. Saat ditemukan, hanya bagian badan korban saja yang masih utuh tanpa terdapat tangan dan kaki korban juga terdapat banyak luka.

Menurutnya, sejak siang dia mencari kayu bakar tidak jauh dari lokasi penemuan mayat.Tiba-tiba dia mencium bau busuk karena penasaran, Subuh berusaha mencari sumber bau tidak sedap tersebut. ”Saya kaget ketika menemukan ada jasad anak anak yang terbujur didalam hutan, karena takut, saya langsung kembali ke kampung untuk memanggil warga lainnya,” ujarnya. Kapolsek Bupon AKP Munasir mengatakan, pihaknya hingga kini belum bisa memastikan penyebab kematian korban.

”Kami belum bisa menyimpulkan apakah kematian korban merupakan tindakan pembunuhan atau lainnya,”ujarnya. Pihaknya juga mengaku masih menyelidiki penyebab kematian korban, sebab jika melihat kondisi korban, banyak kemungkinan yang bisa terjadi atas kematiannya. Saat ditanya apakah ada kemungkinan kematian korban diakibatkan tindakan kejahatan pembunuhan, dia menilai hal tersebut mungkin saja terjadi.

”Bisa saja itu merupakan korban mutilasi, namun kemungkinan lain juga masih bisa terjadi, sebab menurut pengakuan warga sekitar, saat ditemukan, didekat jasad korban ditemukan banyak anjing liar yang berkeliaran,” ujarnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Kapolres Luwu AKBP Komisaris. Menurut dia,pihaknya telah menurunkan tim forensik ke lokasi kejadian untuk mengusut penyebab kematian korban. ”Kita tunggu saja hasil penyidikan oleh tim forensik, dan jika benar kematian korban akibat tindakan mutilasi,maka kami berjanji akan segera menangkap pelakunya dalam waktu dekat ini,”tegasnya.

Kasus penemuan mayat di Kabupaten Luwu dalam setahun terakhir tergolong tinggi. Menurut catatan Polres Luwu, dalam setahun terakhir sudah terdapat sebanyak delapan kasus penemuan mayat di wilayah kabupaten Luwu.

Termasuk salah satunya adalah penemuan tengkorak Rahmawati,mantan pegawai Bulog Subdivre Palopo yang ditemukan di sekitar Gudang Bulog Lare Lare yang diduga merupakan korban pembunuhan dan pemerkosaan, pada awal Januari lalu. Namun, hingga kini kasus tersebut belum berhasil terungkap oleh kepolisian. (asdhar/abdullah nicolha)

KKPA Luwu Utara Disoal

Friday, 02 January 2009

MASAMBA (SINDO) – Pembangunan kebun kelapa sawit melalui pola Kredit Koperasi Primer Untuk Anggota (KKPA) 1996/1997 yang dilakukan PTPN XIV Nusantara, dipersoalkan.


Pasalnya, berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perkebunan, pola tersebut tidak terealisasi 100%. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Binanga Tallu Sudirman Salomba menyatakan, pola tersebut mulai dari pemupukan, perawatan, pembangunan jalan hingga sertifikasi yang merupakan kewajiban pihak PTPN,tidak direalisasikan dengan baik.

“Semuanya itu adalah tanggung jawab PTPN. Padahal, yang kami ketahui bahwa keseluruhan anggaran sejak akhir 2005 lalu, telah mereka cairkan,” kata Sudirman kepada SINDO di Masamba kemarin. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Luwu Utara Nursalam Syamsuddin meminta perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertanggung jawab mengenai masalah ini. “Hal itu dilakukan karena banyak tanggung jawab PTPN XIV yang tidak terealisasi 100%,” ujar legislator PBB ini.

Menurut dia, sesuai pemantauan di lapangan, dari 1.100 hektare yang masuk di Kabupaten Luwu Utara,hampir separuh atau kondisi sekitar 500 hektare sangat memprihatinkan. Tanaman terbengkalai,termasuk jalan dan jembatan, yang juga merupakan tanggung jawab PTPN. “Tanaman dalam keadaan memprihatinkan. Jalan dan jembatan tidak sempurna, serta sertifikasi lahan tidak terurus,”tandasnya.

Dia juga menyebutkan bahwa konversi juga tidak dapat dilakukan pihak PTPN. Padahal, seharusnya petani peserta KPPA tidak dibebani kredit karena secara hukum petani tidak memiliki utang. Apalagi, sampai sekarang mereka tidak pernah menandatangani akad kredit.

“Bank Mandiri sebagai penyalur kredit seharusnya meminta pertanggungjawaban PTPN XIV sebagai penjamin. Kalau perlu pihak bank menghitung dana yang tidak digunakan dari seluruh dana yang dicairkan. Jangan petani yang dirugikan,” tuturnya. (abdullah nicolha)

Bupati Luwu Utara Resmikan 3 Kelurahan

Wednesday, 31 December 2008

MASAMBA(SINDO) – Bupati Luwu Utara (Lutra) HM Luthfi A Mutty mengoperasionalkan tiga kelurahan sekaligus melantik tiga pejabat lurahnya, kemarin.

Ketiga kelurahan tersebut, yakni Kelurahan Marobo di Kecamatan Sabbang,Kelurahan Salassa di Kecamatan Baebunta,dan Kelurahan Bone- Bone di Kecamatan Bone- Bone. Selain itu, bupati juga melantik Lurah Sidomukti dan Kepala Desa Rampoang di Kecamatan Bone-Bone,termasuk Tim Penggerak PKK Desa Sidomukti dan Rampoang.

Lurah dan kepala desa yang dilantik, antara lain Lurah Marobo Andi Pallanggi,Lurah Salassa Andi Rahmat Purnama, dan Lurah Bone-Bone Sylviana Yasin. Sementara Kepala Desa yang dilantik, yaitu Kepala Desa Sidomukti Hj Rita Purwati dan Kepala Desa Rampoang Djumsa. ”Sebagai aparat harus selalu siap melayani masyarakat dan harus mengetahui segala permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Saya meminta masyarakat kritis sebagai fungsi kontrol kepada pemerintah, jangan biarkan aparat pemerintah tidur nyenyak,” ujar Luthfi, dalam sambutannya,kemarin. Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Umum Sekretariat Kabupaten Luwu Utara Muh Kasrum mengatakan, pembentukan kelurahan di masing-masing kecamatan sebagai upaya memenuhi aspirasi masyarakat yang menginginkan perubahan status dari desa menjadi kelurahan.

Sejak Kabupaten Luwu Utara terbentuk pada 1999, hingga saat ini sudah ada tujuh kelurahan yang terbentuk. Pada 2001. (abdullah nicolha)