Sunday, 22 February 2009
MAMUJU(SINDO) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) meminta pemerintah dan pelaksana proyek dapat mempertanggungjawabkan proyek yang akan dikerjakan nanti.
Pasalnya,jika penenderan proyek digelar pada April mendatang, dikhawatirkan pengerjaan akan terbengkalai karena dinilai terlambat. Sehingga kontraktor harus bekerja maksimal untuk menyelesaikannya dalam waktu yang telah ditentukan. “Sebenarnya tergantung DPA.Yang jelas semakin cepat lebih baik dan tetap mengutamakan kualitas pengerjaan dan yang penting sesuai bestek serta aturan.
Semua yang terlibat di dalamnya harus dapat bertanggung jawab,” kata Wakil Ketua DPRD Sulbar Zainal Abidin kepada SINDO,kemarin. Dia juga berharap dalam menentukan kebijakan tidak dipolitisir karena akan dapat merugikan masyarakat. Berdasarkan informasi yang diperoleh SINDO, hingga saat ini seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) masih dalam tahap penyusunan daftar pengisian anggaran (DPA) sehingga penenderan proyek akan dapat digelar April mendatang.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulbar Tahir mengaku bahwa pihaknya hingga saat ini masih menyusun DPA untuk diasistensi. Hasil asistensi itu nanti akan menjadi pedoman dalam melaksanakan program kegiatan.
Asisten II Bidang Pemerintahan Provinsi Sulbar M Naim Tahir menyatakan, tender proyek untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2009 paling lambat akan dilaksanakan pada awal April mendatang. Saat ini pihaknya sedang menyusun panitia pelelangan yang akan bertugas melaksanakan tender. (abdullah nicolha)
Sunday, February 22, 2009
Pemkab Sediakan Lahan dan Rumah bagi Korban Banjir
Thursday, 19 February 2009
POLEWALI (SINDO) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polewali Mandar (Polman) dalam merelokasi korban banjir yang terjadi awal Januari lalu,akan menyediakan lokasi seluas tiga hektare (ha) dan perumahan bagi 80-an kepala keluarga (KK) di Desa Sepa Batu, Kecamatan Tinambung dan Desa Petoosang, Kecamatan Alu.
Wakil Bupati Polman Nadjamuddin Ibrahim menyatakan, segera merelokasi korban banjir yang tempat tinggalnya rusak berat. "Pemkab akan merelokasi korban banjir, khusus di Desa Sepa Batu akan direlokasi ke Desa Tangnga- Tangnga, Kecamatan Tinambung, sebanyak 80 KK dari jumlah rumah yang rusak, yakni 85 rumah,"paparnya. Relokasi tersebut tepatnya akan ditempatkan di pemukiman nelayan Desa Tangnga- Tangnga,dengan luas wilayah satu ha akan diperuntukkan kepada korban banjir.
"Setiap KK akan memperoleh kavling (lokasi) dengan luas ukuran 10x15 meter dan perumahan bagi korban," ungkapnya. Wabup menyatakan, pemerintah berupaya semaksimal mungkin memperhatikan nasib korban banjir dan nelayan setempat. Dia juga berharap, setelah masyarakat direlokasi, tidak kembali ke pantai karena sangat rawan dengan banjir dan abrasi. Di lokasi yang disiapkan apabila belum menampung korban, akan ditambah sesuai kebutuhan yang ada.
Kepala Bappeda Polman Bahrun Bando menyatakan, pemukiman nelayan di Tangnga- Tangnga tersebut awalnya diperuntukkan bagi masyarakat nelayan di pesisir pantai.Namun, dengan adanya banjir yang membuat banyak rumah hancur,pemerintah mendahulukan untuk korban banjir. Dengan adanya keputusan tersebut,Bahrun juga meminta izin kepada para nelayan setempat agar dapat menerima keinginan pemerintah untuk merelokasi korban banjir di daerah mereka.
Sebelumnya,Pemkab Polman melakukan sosialisasi dengan nelayan dan para korban banjirdiKantorDesa Tangnga- Tangnga. Sosialisasi tersebut dihadiri tim penanggulangan bencana,yakniWabup Polman Nadjamuddin Ibrahim, Asisten Pemerintahan Sarja,Asisten Ekonomi Pembangunan Saharuddin Haruna, Kepala Bappeda Bahrum Bando,Kadis PU Edy Wibowo,Kepala Disosnakertrans M Suaib Kambo, Kabag Humas Ahsan Jalaluddin, dan Kabag Pemerintahan Yusuf D Majid.
Belum lama ini, pemkab juga melakukan sosialisasi dengan korban banjir di Petoosang, Kecamatan Alu. Dalam sosialisasi itu, pemkab berdialog dengan korban banjir bagi korban yang rumahnya hanyut dan rusak berat di Petoosang. Beberapa desa di Kecamatan Alu juga akan direlokasi di sekitar perbatasan Petoosang dengan Desa Mombi."Untuk relokasi warga Petoosang,kami juga berencana membebaskan lokasi seluas dua ha untuk merelokasi warga Petoosang," ungkapnya.
Menurut Bahrun, dalam relokasi itu nanti, pemkab setempat akan menyediakan tanah dan perumahan sederhana, termasuk beberapa fasilitas." Mudah-mudahan dengan adanya bantuan tersebut dapat mengurangi beban mereka,"tandasnya. (abdullah nicolha)
POLEWALI (SINDO) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polewali Mandar (Polman) dalam merelokasi korban banjir yang terjadi awal Januari lalu,akan menyediakan lokasi seluas tiga hektare (ha) dan perumahan bagi 80-an kepala keluarga (KK) di Desa Sepa Batu, Kecamatan Tinambung dan Desa Petoosang, Kecamatan Alu.
Wakil Bupati Polman Nadjamuddin Ibrahim menyatakan, segera merelokasi korban banjir yang tempat tinggalnya rusak berat. "Pemkab akan merelokasi korban banjir, khusus di Desa Sepa Batu akan direlokasi ke Desa Tangnga- Tangnga, Kecamatan Tinambung, sebanyak 80 KK dari jumlah rumah yang rusak, yakni 85 rumah,"paparnya. Relokasi tersebut tepatnya akan ditempatkan di pemukiman nelayan Desa Tangnga- Tangnga,dengan luas wilayah satu ha akan diperuntukkan kepada korban banjir.
"Setiap KK akan memperoleh kavling (lokasi) dengan luas ukuran 10x15 meter dan perumahan bagi korban," ungkapnya. Wabup menyatakan, pemerintah berupaya semaksimal mungkin memperhatikan nasib korban banjir dan nelayan setempat. Dia juga berharap, setelah masyarakat direlokasi, tidak kembali ke pantai karena sangat rawan dengan banjir dan abrasi. Di lokasi yang disiapkan apabila belum menampung korban, akan ditambah sesuai kebutuhan yang ada.
Kepala Bappeda Polman Bahrun Bando menyatakan, pemukiman nelayan di Tangnga- Tangnga tersebut awalnya diperuntukkan bagi masyarakat nelayan di pesisir pantai.Namun, dengan adanya banjir yang membuat banyak rumah hancur,pemerintah mendahulukan untuk korban banjir. Dengan adanya keputusan tersebut,Bahrun juga meminta izin kepada para nelayan setempat agar dapat menerima keinginan pemerintah untuk merelokasi korban banjir di daerah mereka.
Sebelumnya,Pemkab Polman melakukan sosialisasi dengan nelayan dan para korban banjirdiKantorDesa Tangnga- Tangnga. Sosialisasi tersebut dihadiri tim penanggulangan bencana,yakniWabup Polman Nadjamuddin Ibrahim, Asisten Pemerintahan Sarja,Asisten Ekonomi Pembangunan Saharuddin Haruna, Kepala Bappeda Bahrum Bando,Kadis PU Edy Wibowo,Kepala Disosnakertrans M Suaib Kambo, Kabag Humas Ahsan Jalaluddin, dan Kabag Pemerintahan Yusuf D Majid.
Belum lama ini, pemkab juga melakukan sosialisasi dengan korban banjir di Petoosang, Kecamatan Alu. Dalam sosialisasi itu, pemkab berdialog dengan korban banjir bagi korban yang rumahnya hanyut dan rusak berat di Petoosang. Beberapa desa di Kecamatan Alu juga akan direlokasi di sekitar perbatasan Petoosang dengan Desa Mombi."Untuk relokasi warga Petoosang,kami juga berencana membebaskan lokasi seluas dua ha untuk merelokasi warga Petoosang," ungkapnya.
Menurut Bahrun, dalam relokasi itu nanti, pemkab setempat akan menyediakan tanah dan perumahan sederhana, termasuk beberapa fasilitas." Mudah-mudahan dengan adanya bantuan tersebut dapat mengurangi beban mereka,"tandasnya. (abdullah nicolha)
Friday, February 13, 2009
Empat Orang Mengaku Intelkam Polda Ditangkap
Thursday, 12 February 2009
MAMUJU(SINDO)–Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Mamuju bekerjasama dengan Polres Majene berhasil menangkap empat orang pelaku penipuan yang mengatasnamakan sebagai Intelkam Polda Sulselbar di Desa Onang Kecamatan Sendana Kabupaten Majene, kemarin.
Selain mengaku sebagai Intelkam Polda, para pelaku juga mengaku sebagai wartawan pada salah satu tabloid yang diberi nama ‘RI Pos’.Ke empat pelaku tersebut yakni, Andi Anto ,38, sebagai (Pemimpin Redaksi), Ince Jumadi ,50, sebagai (wakil), Yudi Darmawan ,32, (anggota), dan Surya Hasan ,30, (anggota).
Aksi mereka diketahui oleh jajaran kepolisian setelah salah seorang korban Hj Saodah ,35, asal Kabupaten Mamuju Utara (Matra) melaporkan aksi mereka ke Mapolres Mamuju. Dalam laporannya, korban mengaku diancam akan dihabisi apabila tidak memenuhi permintaan para pelaku.
”Saya diancam akan dihabisi kalau tidak memenuhi permintaan mereka. Kemudian saya kasih sebanyak Rp200.000 tapi tidak mau diterima katanya kurang dan dikembalikan, lalu saya ngotot, setelah saya menolak menambah uang karena saya mau ke Makassar, salah seorang dari mereka mengancam akan menghabisi saya,”katanya saat melapor ke Mapolres Mamuju, kemarin.
Kapolres Mamuju Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hermanto membenaran atas laporan tersebut yang diterima langsung oleh jajaran Polres Mamuju sekira pukul 20.00 Wita malam dan langsung melakukan pengejaran terhadap para pelaku. ”Setelah mendapat laporan tersebut kami langsung mengerahkan anggota untuk melakukan pengejaran,” katanya kepada SINDO, kemarin.
Menurut Kapolres, aksi pelaku tersebut bukan hanya sekali itu tetapi berkali-kali dan dalam melakukan aksinya selalu menggunakan nama Intelkam Polda untuk menakut- nakuti para korban. ”Kalau berhadapan dengan para pengusaha (korban) mereka mengaku sebagai anggota polisi, tapi kalau berhadapan dengan polisi mereka mengaku sebagai wartawan,” jelasnya.
Sebelumnya, para pelaku juga berhasil melakukan aksi penipuan di Kecamatan Kalukku Kab Mamuju terhadap salah seorang pengusaha kayu setempat dan berhasil mendapatkan uang sebesar Rp500.000. Karena tidakberhasil menemukan pelaku di Mamuju Polres Mamuju langsung menghubungi jajaran Polres Majene untuk melakukan penangkapan terhadap para pelaku tersebut.
Senada diungkapkan Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Mamuju Ajun Komisaris Polisi (AKP) Abidin bahwa pihaknya setelah mendengar laporan tersebut langsung terjun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama beberapa anggota lainnya untuk memastikan laporan tersebut. Namun para pelaku berhasil melarikan diri.
”Para pelaku berjumlah empat orang, salah satu dari mereka Yudi Darmawan juga membawa senjata tajam (Sajam) dan mengendarai kendaraan roda empat jenis Avanza. Makanya aksi mereka sangat membuat para korban takut karena mereka membawa Sajam,” kata Abidin kepada SINDO,kemarin.
Pelaku Ditangkap di Majene
Setelah aksi mereka tercium oleh pihak kepolisian dan berniat melarikan diri ke Makassar, mereka berhasil ditangkap oleh jajaran Polres Majene di Desa Onang Kec Sendana Kab Majene serta dengan bantuan warga setempat.
Kasat Reskrim Polres Majene AKP Ricky Lesmana menyatakan, dalam pengerahan pasukan tersebut pihaknya menempatkan beberapa personil di perbatasan Majene-Mamuju dan setiap pos polisi yang berada di tiap kecamatan. Dia juga mengingatkan kepada anggotanya untuk berhati-hati dan waspada karena para pelaku juga membawa senjata tajam.
”Setelah mendapat laporan dari Polres Mamuju tentang para pelaku yang ingin melarikan diri, kami langsung kerahkan pasukan untuk berjaga- jaga di perbatasan Majene- Mamuju dan mengintruksikan kepada setiap anggota untuk berjaga di setiap pos-pos polisi yang ada di setiap kecamatan,” ungkap Kasat Reskrim ini kepada SINDO,kemarin.
Berkat kesigapan para anggota di lapangan kata Ricky, para pelaku berhasil ditangkap di Pos Polisi Onang Sendana dengan bekerja sama dengan warga setempat untuk mengepung mobil Avanza yang dikendarai pelaku bersama barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp14,1 juta yang mereka simpan di kotak P3K mobil. (abdullah nicolha)
MAMUJU(SINDO)–Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Mamuju bekerjasama dengan Polres Majene berhasil menangkap empat orang pelaku penipuan yang mengatasnamakan sebagai Intelkam Polda Sulselbar di Desa Onang Kecamatan Sendana Kabupaten Majene, kemarin.
Selain mengaku sebagai Intelkam Polda, para pelaku juga mengaku sebagai wartawan pada salah satu tabloid yang diberi nama ‘RI Pos’.Ke empat pelaku tersebut yakni, Andi Anto ,38, sebagai (Pemimpin Redaksi), Ince Jumadi ,50, sebagai (wakil), Yudi Darmawan ,32, (anggota), dan Surya Hasan ,30, (anggota).
Aksi mereka diketahui oleh jajaran kepolisian setelah salah seorang korban Hj Saodah ,35, asal Kabupaten Mamuju Utara (Matra) melaporkan aksi mereka ke Mapolres Mamuju. Dalam laporannya, korban mengaku diancam akan dihabisi apabila tidak memenuhi permintaan para pelaku.
”Saya diancam akan dihabisi kalau tidak memenuhi permintaan mereka. Kemudian saya kasih sebanyak Rp200.000 tapi tidak mau diterima katanya kurang dan dikembalikan, lalu saya ngotot, setelah saya menolak menambah uang karena saya mau ke Makassar, salah seorang dari mereka mengancam akan menghabisi saya,”katanya saat melapor ke Mapolres Mamuju, kemarin.
Kapolres Mamuju Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hermanto membenaran atas laporan tersebut yang diterima langsung oleh jajaran Polres Mamuju sekira pukul 20.00 Wita malam dan langsung melakukan pengejaran terhadap para pelaku. ”Setelah mendapat laporan tersebut kami langsung mengerahkan anggota untuk melakukan pengejaran,” katanya kepada SINDO, kemarin.
Menurut Kapolres, aksi pelaku tersebut bukan hanya sekali itu tetapi berkali-kali dan dalam melakukan aksinya selalu menggunakan nama Intelkam Polda untuk menakut- nakuti para korban. ”Kalau berhadapan dengan para pengusaha (korban) mereka mengaku sebagai anggota polisi, tapi kalau berhadapan dengan polisi mereka mengaku sebagai wartawan,” jelasnya.
Sebelumnya, para pelaku juga berhasil melakukan aksi penipuan di Kecamatan Kalukku Kab Mamuju terhadap salah seorang pengusaha kayu setempat dan berhasil mendapatkan uang sebesar Rp500.000. Karena tidakberhasil menemukan pelaku di Mamuju Polres Mamuju langsung menghubungi jajaran Polres Majene untuk melakukan penangkapan terhadap para pelaku tersebut.
Senada diungkapkan Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Mamuju Ajun Komisaris Polisi (AKP) Abidin bahwa pihaknya setelah mendengar laporan tersebut langsung terjun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama beberapa anggota lainnya untuk memastikan laporan tersebut. Namun para pelaku berhasil melarikan diri.
”Para pelaku berjumlah empat orang, salah satu dari mereka Yudi Darmawan juga membawa senjata tajam (Sajam) dan mengendarai kendaraan roda empat jenis Avanza. Makanya aksi mereka sangat membuat para korban takut karena mereka membawa Sajam,” kata Abidin kepada SINDO,kemarin.
Pelaku Ditangkap di Majene
Setelah aksi mereka tercium oleh pihak kepolisian dan berniat melarikan diri ke Makassar, mereka berhasil ditangkap oleh jajaran Polres Majene di Desa Onang Kec Sendana Kab Majene serta dengan bantuan warga setempat.
Kasat Reskrim Polres Majene AKP Ricky Lesmana menyatakan, dalam pengerahan pasukan tersebut pihaknya menempatkan beberapa personil di perbatasan Majene-Mamuju dan setiap pos polisi yang berada di tiap kecamatan. Dia juga mengingatkan kepada anggotanya untuk berhati-hati dan waspada karena para pelaku juga membawa senjata tajam.
”Setelah mendapat laporan dari Polres Mamuju tentang para pelaku yang ingin melarikan diri, kami langsung kerahkan pasukan untuk berjaga- jaga di perbatasan Majene- Mamuju dan mengintruksikan kepada setiap anggota untuk berjaga di setiap pos-pos polisi yang ada di setiap kecamatan,” ungkap Kasat Reskrim ini kepada SINDO,kemarin.
Berkat kesigapan para anggota di lapangan kata Ricky, para pelaku berhasil ditangkap di Pos Polisi Onang Sendana dengan bekerja sama dengan warga setempat untuk mengepung mobil Avanza yang dikendarai pelaku bersama barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp14,1 juta yang mereka simpan di kotak P3K mobil. (abdullah nicolha)
Tuesday, February 10, 2009
Pengesahan RAPBD Sulbar Molor
Wednesday, 11 February 2009
MAMUJU (SINDO) – Pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang rencananya disahkan kemarin,molor.
Molornya pengesahan itu karena tidak hadirnya pihak pemerintah yang termasuk dalam panitia khusus (pansus). Maka,agenda pengesahan dialihkan untuk membahas hasil asistensi Departemen Dalam Negeri (Depdagri) antara Pansus DPRD dan pemerintah Sulbar.
“Tidak ada agenda pengesahan, yang ada hanya membahas hasil asistensi antara Depdagri dan DPRD-Pemerintah beberapa waktu lalu, untuk mencocokkan yang disetujui dan sesuai kebutuhan untuk disahkan menjadi APBD,” ungkap Pansus DPRD Sulbar Zainal Abidin kepada SINDO,kemarin.
Sebelumnya,pihak DPRD merencanakan mengesahkan RAPBD.Adanya beberapa kendala sehingga RAPBD Sulbar itu belum disahkan. “Memang kami berencana untuk itu, tapi karena rancangan tersebut masih memerlukan mencocokkan dengan hasil asistensi,makanya belum disahkan,” jelasnya yang juga Wakil Ketua DPRD Sulbar ini.
Hasil akhir asistensi tersebut nanti akan menjadi patokan mana yang cocok disahkan dan mana yang tidak. Dia berharap dalam waktu dekat, pengesahan RAPBD tersebut dapat dilakukan. “Mudah-mudahan kami bisa mengesahkannya dalam waktu satu atau dua hari ke depan,” ucapnya.
Legislator PKS ini juga berharap,dalam pengesahan tersebut nanti, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dapat hadir menyaksikan dan menandatangani langsung rancangan tersebut karena beliau adalah penentu kebijakan di daerah ini. “Kami tetap menginginkan Pak Gubernur hadir dalam rapat paripurna pengesahan itu karena ingin menyaksikan penandatanganan itu.
Jika hanya diwakili Wagub M Amri Sanusi, yang ada hanya akan diparaf.Selain itu, sebagai bentuk penghor-matan kepada lembaga DPRD sebagai mitra kerja,”jelasnya. Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh yang dihubungi kemarin menyatakan, pihaknya belum dapat memastikan akan menghadiri pengesahan tersebutapabiladigelardalam satu atau dua hari mendatang.
Pasalnya,Anwar masih berada di luar daerah dan telah menyerahkan hal itu kepada wakilnya, M Amri Sanusi. Dalam RAPBD tersebut, Biro Perlengkapan Sekretariat Daerah Sulbar menganggarkan pembelian randis sebesar Rp7,8 miliar.
Hal tersebut disorot tajam beberapa kalangan, termasuk DPRD setempat karena dinilai tidak realistis dan melanggar Permendagri No7/2006tentangStandarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah. Bahkan, dua Wakil Ketua DPRD Syulbar, yakni Arifin Nurdin dan Zainal Abidin menolak usulan tersebut dan sepakat tidak akan mengesahkan APBD jika eksekutif tetap ngotot menganggarkan randis.
“Sangat tidak wajar kalau kami menganggarkan randis sebesar Rp7,8 miliar. Sementara banyak warga Sulbar yang kesusahan, khususnya pascabencana banjir Polman. Makanya kami minta dialihkan untuk memberikan bantuan kepada mereka,” ucap Arifin.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar Arsyad Hafid mengungkapkan,untuk pembelian alat berat,secara teknis dibicarakan biro keuangan dan biro perlengkapan.“Dewan sudah menyetujui untuk dianggarkan dalam APBD dalam bentuk pengadaan barang berdasarkan Kepres No 80/2003,”ungkapnya. (abdullah nicolha)
MAMUJU (SINDO) – Pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang rencananya disahkan kemarin,molor.
Molornya pengesahan itu karena tidak hadirnya pihak pemerintah yang termasuk dalam panitia khusus (pansus). Maka,agenda pengesahan dialihkan untuk membahas hasil asistensi Departemen Dalam Negeri (Depdagri) antara Pansus DPRD dan pemerintah Sulbar.
“Tidak ada agenda pengesahan, yang ada hanya membahas hasil asistensi antara Depdagri dan DPRD-Pemerintah beberapa waktu lalu, untuk mencocokkan yang disetujui dan sesuai kebutuhan untuk disahkan menjadi APBD,” ungkap Pansus DPRD Sulbar Zainal Abidin kepada SINDO,kemarin.
Sebelumnya,pihak DPRD merencanakan mengesahkan RAPBD.Adanya beberapa kendala sehingga RAPBD Sulbar itu belum disahkan. “Memang kami berencana untuk itu, tapi karena rancangan tersebut masih memerlukan mencocokkan dengan hasil asistensi,makanya belum disahkan,” jelasnya yang juga Wakil Ketua DPRD Sulbar ini.
Hasil akhir asistensi tersebut nanti akan menjadi patokan mana yang cocok disahkan dan mana yang tidak. Dia berharap dalam waktu dekat, pengesahan RAPBD tersebut dapat dilakukan. “Mudah-mudahan kami bisa mengesahkannya dalam waktu satu atau dua hari ke depan,” ucapnya.
Legislator PKS ini juga berharap,dalam pengesahan tersebut nanti, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dapat hadir menyaksikan dan menandatangani langsung rancangan tersebut karena beliau adalah penentu kebijakan di daerah ini. “Kami tetap menginginkan Pak Gubernur hadir dalam rapat paripurna pengesahan itu karena ingin menyaksikan penandatanganan itu.
Jika hanya diwakili Wagub M Amri Sanusi, yang ada hanya akan diparaf.Selain itu, sebagai bentuk penghor-matan kepada lembaga DPRD sebagai mitra kerja,”jelasnya. Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh yang dihubungi kemarin menyatakan, pihaknya belum dapat memastikan akan menghadiri pengesahan tersebutapabiladigelardalam satu atau dua hari mendatang.
Pasalnya,Anwar masih berada di luar daerah dan telah menyerahkan hal itu kepada wakilnya, M Amri Sanusi. Dalam RAPBD tersebut, Biro Perlengkapan Sekretariat Daerah Sulbar menganggarkan pembelian randis sebesar Rp7,8 miliar.
Hal tersebut disorot tajam beberapa kalangan, termasuk DPRD setempat karena dinilai tidak realistis dan melanggar Permendagri No7/2006tentangStandarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah. Bahkan, dua Wakil Ketua DPRD Syulbar, yakni Arifin Nurdin dan Zainal Abidin menolak usulan tersebut dan sepakat tidak akan mengesahkan APBD jika eksekutif tetap ngotot menganggarkan randis.
“Sangat tidak wajar kalau kami menganggarkan randis sebesar Rp7,8 miliar. Sementara banyak warga Sulbar yang kesusahan, khususnya pascabencana banjir Polman. Makanya kami minta dialihkan untuk memberikan bantuan kepada mereka,” ucap Arifin.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar Arsyad Hafid mengungkapkan,untuk pembelian alat berat,secara teknis dibicarakan biro keuangan dan biro perlengkapan.“Dewan sudah menyetujui untuk dianggarkan dalam APBD dalam bentuk pengadaan barang berdasarkan Kepres No 80/2003,”ungkapnya. (abdullah nicolha)
Sunday, February 8, 2009
Banjir Ancam 20 Daerah
Monday, 09 February 2009
MAKASSAR(SINDO) – Banjir besar masih mengancam Sulsel beberapa hari ke depan,bahkan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel,menyebutkan 20 kab/kota rawan terhadap bencana tersebut.
PSDA mencatat ada beberapa kabupaten yang memiliki risiko tinggi terkena banjir besar, yakni Luwu Utara, Sidrap,Bone dan Wajo. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sub Dinas Sungai, Danau dan Waduk Dinas PSDA, Nasser Hasan, menjelaskan daerah tersebut termasuk kategori paling rawan karena banjir yang melanda termasuk banjir 20 tahunan. Dijelaskan, banjir 20 tahunan adalah banjir yang rutin melanda setiap tahun,dansudah terjadi dalam kurun 20 tahun terakhir.
Penyebab lainnya adalah masih tingginya curah hujan di daerah tersebut.”Sungai di empat daerah itu bisa sewaktu-waktu meluap, apalagi curah hujan masih tinggi. Hanya waktu banjir itu tidak bisa diperkirakan,” ujar Nasser,kemarin. Dia menyebutkan, daerah di Sulsel pada umumnya rawan banjir karena hampir seluruhnya dilalui sungai besar, seperti Sungai Jeneberang, Saddang, Tallo dan Walannae. Penyebab lain banjir terjadi adalah akibat kerusakan hutan di sepanjang aliran sungai.
Selain itu, beberapa daerah resapan air sudah menjadi kawasan permukiman penduduk. Sebagai langkah antisipasi, Dinas PSDA Sulsel sudah menyalurkan 20.000 unit bronjong ke seluruh daerah rawan banjir tersebut. Bronjong tersebut akan dipasang sebagai tanggul untuk mengantisipasi dampak buruk luapan air sungai. Berdasarkan informasi dari Badan Meterologi dan Geofisika Wilayah IV Makassar, curah hujan di seluruh daerah di Sulsel masih diatas normal pada Februari ini.Hal tersebut dinilai berpotensi memicu terjadinya banjir.
Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMG, Sujarwo, mengatakan tingginya curah hujan tersebut akibat masih hangatnya suhu di perairan Sulawesi. Suhu hangat tersebut menciptakan uap air dalam jumlah banyak sehingga berdampak pada intensitas hujan di atas normal. ”Februari ini curah hujan diprediksi masih di atas normal. Hampir seluruh daerah seperti itu, termasuk Makassar,” terang Sujarwo. BMG mencatat, intensitas hujan masih sama seperti pada Januari lalu.
Seperti diketahui, banjir melanda sejumlah daerah di Sulsel pada akhir Januari lalu, antara lain Sidrap,Wajo dan Luwu Utara. Banjir tersebut tidak hanya menelan kerugian materi namun juga merenggut korban jiwa. Anggota Komisi III DPRD Sulsel A Heru Suhari Attas mengatakan, anggaran yang tersedia dalam APBD dan APBN selama ini masih terbatas untuk menanggulangi banjir.
Banjir Rob Terjang Tiga Desa di Pinrang
Di Pinrang tiga desa dan dusun di Kecamatan Suppa diterjang banjir rob sejak empat hari terakhir.Tiga desa dan dusun tersebut adalah Ujung Lero, Ujung Labuang, dan Tanah Milie.Ketinggian banjir tersebut mencapai 1,5 meter.
Namun, daerah yang paling parah akibat terjangan banjir rob itu, adalah Desa Ujung Labuang. Kepala Dusun Tanah Milie, Arifuddin,53, menyebutkan banjir rob yang menerjang dusunnya, diakibatkan tidak adanya tanggul penahan ombak di tempat itu. Akibatnya ratusan rumah panggung di dusun Tanah Milie terendam banjir. Rendahnya rumah panggung di desa itu,mengakibatkan sekitar 30 sentimeter lagi banjir akan menenggelamkan lantai rumah kayu warga.
”Sudah empat hari ini air laut naik. Anak sekolah terpaksa diliburkan. Di sekitar desa ini memang tidak ada tanggul penahan ombak.Jadi begitu ombak di laut tinggi, air dengan bebas masuk ke pemukiman warga,” jelas Arifuddin. Sementara banjir rob di Desa Ujung Lero, diakibatkan rusaknya tanggul di sekitar tempat itu. Dekatnya pemukiman warga, serta kerasnya ombak mengakibatkan talud di Pantai Ujung Lero rusak di beberapa tempat. Selain merendam pemukiman warga, banjir juga menggenangi rumah ibadah dan sarana umum lainnya seperti sekolah.
Bahkan sejumlah warga mengakui, akibat banjir yang telah merendam rumah mereka sejak empat hari lalu, mereka diserang berbagai penyakit kulit. Sejauh ini,warga belum menerima bantuan apapun dari pemerintah ataupun dari perorangan. Bupati Pinrang A Nawir Pasinringi mengimbau warga yang terkena dampak banjir rob dan abrasi, untuk pindah ke lokasi yang lebih aman. Ajakan Bupati Pinrang itu terkait dengan terjadinya abrasi di pesisir pantai Pinrang, mulai dari Kec Suppa hingga Mattiro Sompe.
Akibat abrasi itu,puluhan rumah rusak diterjang ombak besar, karena rubuhnya tanggul penahan dan pemecah ombak.Ajakan tersebut disampaikan oleh Bupati Pinrang ketika mengunjungi korban abrasi pantai di Kec Mattiro Sompe beberapa waktu lalu.
Abrasi Ancam 100 KK di Majene
Sementara itu sedikitnya 100 kepala keluarga (KK) di Lingkungan Binanga Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene terancam dilanda abrasi. Karena, tanggul yang menjadi penahan ombak sepanjang 100 meter di daerah tersebut roboh. Selain tanggul,jalan aspal sepanjang 50 meter juga terkikis dan hampir putus dan pondasi jembatan yang digunakan warga setempat juga ikut terkikis.
Hal itu disebabkan tingginya gelombang air laut yang pasang pada sore hari. Robohnya tanggul tersebut juga mengakibatkan, air laut masuk ke rumah-rumah warga yang berada di pesisir pantai Binanga Majene. Hal itu dikhawatirkan warga setempat karena apabila dibiarkan terus akan merobohkan rumah mereka.
Sementara itu,Wakil Bupati Majene Andi Itol Syaiful Tonra berjanji akan selalu mengupayakan apabila ada keluhan masyarakat sekaitan dengan pelayanan pemerintah, apalagi kerusakan yang diakibatkan oleh alam. ”Yang jelas kita akan selalu mengupayakan untu memperbaiki yang rusak agar masyarakat merasa nyaman,” ungkapnya kepada SINDO, kemarin.
Angin Kencang Hantam 9 Rumah di Gowa
Di Kabupaten Gowa sedikitnya sembilan rumah di Dusun Pangngampusan, Desa Taring,Kec Biringbulu,rusak dihantam angin kencang Jumat (6/7) dinihari. Kesembilan atap rumah tersebut terbang terbawa angin hingga belasan meter. Beruntung tidak ada korban jiwa. Sebab saat kejadian warga spontan keluar berhamburan menyelamatkan diri karena takut tertimpa runtuhan rangka atap rumah mereka.
Camat Biringbulu, Kamsina mengatakan,pihaknya telah melakukan pendataan sementara terhadap segala kerusakan yang menimpa sembilan rumah warga tersebut. (bakti m munir/m syahlan/ abdullah nicolha/ herni amir)
MAKASSAR(SINDO) – Banjir besar masih mengancam Sulsel beberapa hari ke depan,bahkan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sulsel,menyebutkan 20 kab/kota rawan terhadap bencana tersebut.
PSDA mencatat ada beberapa kabupaten yang memiliki risiko tinggi terkena banjir besar, yakni Luwu Utara, Sidrap,Bone dan Wajo. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sub Dinas Sungai, Danau dan Waduk Dinas PSDA, Nasser Hasan, menjelaskan daerah tersebut termasuk kategori paling rawan karena banjir yang melanda termasuk banjir 20 tahunan. Dijelaskan, banjir 20 tahunan adalah banjir yang rutin melanda setiap tahun,dansudah terjadi dalam kurun 20 tahun terakhir.
Penyebab lainnya adalah masih tingginya curah hujan di daerah tersebut.”Sungai di empat daerah itu bisa sewaktu-waktu meluap, apalagi curah hujan masih tinggi. Hanya waktu banjir itu tidak bisa diperkirakan,” ujar Nasser,kemarin. Dia menyebutkan, daerah di Sulsel pada umumnya rawan banjir karena hampir seluruhnya dilalui sungai besar, seperti Sungai Jeneberang, Saddang, Tallo dan Walannae. Penyebab lain banjir terjadi adalah akibat kerusakan hutan di sepanjang aliran sungai.
Selain itu, beberapa daerah resapan air sudah menjadi kawasan permukiman penduduk. Sebagai langkah antisipasi, Dinas PSDA Sulsel sudah menyalurkan 20.000 unit bronjong ke seluruh daerah rawan banjir tersebut. Bronjong tersebut akan dipasang sebagai tanggul untuk mengantisipasi dampak buruk luapan air sungai. Berdasarkan informasi dari Badan Meterologi dan Geofisika Wilayah IV Makassar, curah hujan di seluruh daerah di Sulsel masih diatas normal pada Februari ini.Hal tersebut dinilai berpotensi memicu terjadinya banjir.
Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMG, Sujarwo, mengatakan tingginya curah hujan tersebut akibat masih hangatnya suhu di perairan Sulawesi. Suhu hangat tersebut menciptakan uap air dalam jumlah banyak sehingga berdampak pada intensitas hujan di atas normal. ”Februari ini curah hujan diprediksi masih di atas normal. Hampir seluruh daerah seperti itu, termasuk Makassar,” terang Sujarwo. BMG mencatat, intensitas hujan masih sama seperti pada Januari lalu.
Seperti diketahui, banjir melanda sejumlah daerah di Sulsel pada akhir Januari lalu, antara lain Sidrap,Wajo dan Luwu Utara. Banjir tersebut tidak hanya menelan kerugian materi namun juga merenggut korban jiwa. Anggota Komisi III DPRD Sulsel A Heru Suhari Attas mengatakan, anggaran yang tersedia dalam APBD dan APBN selama ini masih terbatas untuk menanggulangi banjir.
Banjir Rob Terjang Tiga Desa di Pinrang
Di Pinrang tiga desa dan dusun di Kecamatan Suppa diterjang banjir rob sejak empat hari terakhir.Tiga desa dan dusun tersebut adalah Ujung Lero, Ujung Labuang, dan Tanah Milie.Ketinggian banjir tersebut mencapai 1,5 meter.
Namun, daerah yang paling parah akibat terjangan banjir rob itu, adalah Desa Ujung Labuang. Kepala Dusun Tanah Milie, Arifuddin,53, menyebutkan banjir rob yang menerjang dusunnya, diakibatkan tidak adanya tanggul penahan ombak di tempat itu. Akibatnya ratusan rumah panggung di dusun Tanah Milie terendam banjir. Rendahnya rumah panggung di desa itu,mengakibatkan sekitar 30 sentimeter lagi banjir akan menenggelamkan lantai rumah kayu warga.
”Sudah empat hari ini air laut naik. Anak sekolah terpaksa diliburkan. Di sekitar desa ini memang tidak ada tanggul penahan ombak.Jadi begitu ombak di laut tinggi, air dengan bebas masuk ke pemukiman warga,” jelas Arifuddin. Sementara banjir rob di Desa Ujung Lero, diakibatkan rusaknya tanggul di sekitar tempat itu. Dekatnya pemukiman warga, serta kerasnya ombak mengakibatkan talud di Pantai Ujung Lero rusak di beberapa tempat. Selain merendam pemukiman warga, banjir juga menggenangi rumah ibadah dan sarana umum lainnya seperti sekolah.
Bahkan sejumlah warga mengakui, akibat banjir yang telah merendam rumah mereka sejak empat hari lalu, mereka diserang berbagai penyakit kulit. Sejauh ini,warga belum menerima bantuan apapun dari pemerintah ataupun dari perorangan. Bupati Pinrang A Nawir Pasinringi mengimbau warga yang terkena dampak banjir rob dan abrasi, untuk pindah ke lokasi yang lebih aman. Ajakan Bupati Pinrang itu terkait dengan terjadinya abrasi di pesisir pantai Pinrang, mulai dari Kec Suppa hingga Mattiro Sompe.
Akibat abrasi itu,puluhan rumah rusak diterjang ombak besar, karena rubuhnya tanggul penahan dan pemecah ombak.Ajakan tersebut disampaikan oleh Bupati Pinrang ketika mengunjungi korban abrasi pantai di Kec Mattiro Sompe beberapa waktu lalu.
Abrasi Ancam 100 KK di Majene
Sementara itu sedikitnya 100 kepala keluarga (KK) di Lingkungan Binanga Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene terancam dilanda abrasi. Karena, tanggul yang menjadi penahan ombak sepanjang 100 meter di daerah tersebut roboh. Selain tanggul,jalan aspal sepanjang 50 meter juga terkikis dan hampir putus dan pondasi jembatan yang digunakan warga setempat juga ikut terkikis.
Hal itu disebabkan tingginya gelombang air laut yang pasang pada sore hari. Robohnya tanggul tersebut juga mengakibatkan, air laut masuk ke rumah-rumah warga yang berada di pesisir pantai Binanga Majene. Hal itu dikhawatirkan warga setempat karena apabila dibiarkan terus akan merobohkan rumah mereka.
Sementara itu,Wakil Bupati Majene Andi Itol Syaiful Tonra berjanji akan selalu mengupayakan apabila ada keluhan masyarakat sekaitan dengan pelayanan pemerintah, apalagi kerusakan yang diakibatkan oleh alam. ”Yang jelas kita akan selalu mengupayakan untu memperbaiki yang rusak agar masyarakat merasa nyaman,” ungkapnya kepada SINDO, kemarin.
Angin Kencang Hantam 9 Rumah di Gowa
Di Kabupaten Gowa sedikitnya sembilan rumah di Dusun Pangngampusan, Desa Taring,Kec Biringbulu,rusak dihantam angin kencang Jumat (6/7) dinihari. Kesembilan atap rumah tersebut terbang terbawa angin hingga belasan meter. Beruntung tidak ada korban jiwa. Sebab saat kejadian warga spontan keluar berhamburan menyelamatkan diri karena takut tertimpa runtuhan rangka atap rumah mereka.
Camat Biringbulu, Kamsina mengatakan,pihaknya telah melakukan pendataan sementara terhadap segala kerusakan yang menimpa sembilan rumah warga tersebut. (bakti m munir/m syahlan/ abdullah nicolha/ herni amir)
Subscribe to:
Posts (Atom)