Monday, June 1, 2009

Ratusan Warga Mapilli Tak Masuk Daftar Pemilih

Monday 01 June 2009
POLEWALI (SI) – Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli mendatang, Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) masih mengandung masalah. Terbukti, ratusan warga di Kecamatan Mapilli tidak terdaftar dalam DPT.

Hal tersebut terkuak saat Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polman menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke sejumlah desa hingga ke dusun di kecamatan tersebut.

Kegiatan yang dilakukan Panwaslu tersebut dilakukan sejak dua hari terakhir dan berhasil menemukan ratusan warga yang tidak terdaftar sebagai pemilih. Padahal, pekan lalu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Polman telah menetapkan 267.000 pemilih tetap yang tersebar di 16 kecamatan di daerah tersebut.

Seperti yang terjadi di Dusun Massandra, Kecamatan Mapilli, puluhan warga setempat ditemukan belum terdaftar namanya di DPT. Padahal, warga mengaku bahwa, pihaknya telah berkali-kali mengadu ke petugas validasi pemilih namun, sebagian warga tetap luput dari pendataan petugas.

Arifin ,33, salah seorang warga Mapilli mengaku kecewa berat dengan kinerja petugas KPU Polman yang tidak mendaftarkan dua orang anaknya sebagai pemilih di DPT.

“Yang jelas saya merasa kecewa kepada petugas KPU yang tidak mendaftarkan dua orang anak saya, padahal sudah saya laporkan,” kata Arifin dengan nada kecewa.

Ketua Panwaslu Kecamatan Mapilli Suardi Toni menyatakan, pihaknya akan terus melakukan razia untuk membantu warga yang tidak terdaftar sebagai pemilih di DPT, hingga batas akhir pendataan yakni hari ini (kemarin) 31 Mei. “Kami tetap akan berupaya membantu warga yang tidak terdaftar,” tegas Suardi. (abdullah nicolha).

Sunday, May 31, 2009

Warga Majene Diserang DBD

Monday, 01 June 2009
MAJENE(SI) – Sedikitnya delapan orang anak di Kabupaten Majene,Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa dilarikan ke rumah sakit setempat,lantaran diserang penyakit demam berdarah.

Hal itu akibat datangnya musim penghujan di daerah itu sehingga penyakit berbahaya tersebut menghantui warga setempat. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit dua dari delapan anak tersebut sudah dinyatakan positif menderita DBD.

Data yang dihimpun SI dua anak yang sudah dipastikan terjangkit yakni,Ismawati,6,anak dari keluarga Ismail,30,warga Desa Parrasangan, Kecamatan Sendana dan Nurlisa, 9,yang juga merupakan warga Sendana anak dari Rahmatullah,29.

Kepala RSUD Majene Hj Rahmi mengatakan,dari delapan anak yang masuk ke rumah sakit dan diduga terserang DBD hanya tiga orang yang dirawat. Sementara enam anak lainnya tidak menjalani perawatan secara intensif (tidak diopname).

“Ada delapan yang masuk ke sini (RSUD) Pak, pada awalnya kedelapan anak tersebut memiliki gejala yang sama yakni suhu badan yang meninggi dan di sekujur tubuhnya terdapat bercak-bercak merah.Namun, setelah diperiksa melalui uji darah di laboratorium ternyata hanya dua diantaranya yang positif terjangkit,” katanya kepada wartawan di tempat kerjanya,kemarin.

Dia menuturkan, keduanya saat ini masih dalam perawatan intensif di RSUD Majene dan telah enam hari dirawat, Ismawati sendiri dari pemeriksaan pihak rumah sakit,di beberapa bagian tubuhnya terlihat ada bercak merah begitu juga yang terjadi pada Nurlisa.

Sementara itu, orang tua korban Ismail menyatakan, saat melihat kondisi anaknya yang sudah dua hari menderita demam pihaknya langsung berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit.

Selain panas demam juga mendapati bagian tubuh anaknya yang mengalami bercak-bercak merah. “Saya bawa ke rumah sakit ini karena badannya panas tinggi dan ada bercak-bercak merah. Itulah yang membuat saya khawatir,makanya kami langsung bawa kesini,” ungkapnya dengan nada haru.

Senada diungkapkan Rahmatullah, 29, yang juga merupakan orang tua korban Nurlisa bahwa, kekhawatirannya bersama sang istri bertambah saat melihat anaknya yang tak kunjung berhenti dari demam.

“Kami khawatir karena sudah dua hari panas demamnya tidak turun,kami tambah panik saat melihat sebagian tubuhnya juga ada bercak merah,”tuturnya. Orang tua korban juga sempat membawa anak mereka ke puskesmas setempat, namun pihak puskesmas menyarankan untuk membawanya langsung ke RSUD di Majene, karena peralatan di puskesmas tersebut tidak memadai.

“Kami sempat ke puskesmas tapi mereka menyarankan untuk membawanya langsung ke RSUD Majene karena disana ada laboratorium,” ungkapnya. Mereka berharap, agar penyakit yang diderita anak mereka dapat segera sembuh dan bisa bersekolah kembali.

Hingga kemarin, kedua anak tersebut masih menjalani perawatan secara intensif di ruang perawatan anak yang terjangkit DBD. Sementara enam anak lainnya sudah diperbolehkan pulang karena hanya menderita demam biasa.

Data yang dihimpun SI, hingga Mei terhitung sejak Januari 2009 ini,sudah 17 kasus DBD yang tercatat di RSUD Majene, lima diantaranya dinyatakan positif mengidap penyakit tersebut. (abdullah nicolha).

Wednesday, May 27, 2009

Pemekaran Balanipa Disetujui

Wednesday, 27 May 2009
MAMUJU(SI) – Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Anwar Adnan Saleh menyetujui pembentukan Kabupaten Balanipa sebagai salah satu daerah yang berdiri sendiri (otonom).

Dia menyatakan, pihaknya memberikan persetujuan atas aspirasi dari rakyat Balanipa tersebut.“Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar prinsipnya telah menyetujui aspirasi tersebut. Dukungan Bupati dan DPRD Polman akan segera saya tindak lanjuti melalui surat persetujuan ke DPRD Sulbar,”kata dia di ruang kerjanya kemarin.

Bahkan,orang nomor satu di Sulbar tersebut langsung memerintahkan Asisten I Pemprov Sulbar Akhsan Djalaluddin agar surat rekomendasi tersebut secepatnya diselesaikan dan segera disampaikan ke DPRD paling lambat hari ini.

“Insya Allah, Rabu, rekomendasinya segera saya tanda tangani. Tidak ada alasan tidak mempercepat pembentukan Balanipa sebagai satu kabupaten yang merupakan pusat kebudayaan Mandar di Sulbar. Hal ini harus segera diselesaikan karena lebih cepat lebih baik,”ungkapnya.

Dalam pertemuan antara KAPP-KB tersebut turut hadir Sekprov Sulbar Arsyad Hafid,Asisten I Akhsan Djalaluddin, Asisten III Hasanuddin Mandra, dan Kepala Biro Pemerintahan Khaeruddin Anas. Sementara delegasi Balanipa dipimpin langsung Ketua Mujirin M Yamin.

Gubernur juga menyinggung masalah penempatan ibu kota Kabupaten Balanipa nanti apabila terbentuk dan meminta semua pihak mengikuti apa yang telah direkomendasikan pemerintah dan DPRD.“Saya kira kita ikuti saja apa yang direkomendasikan pemerintah dan DPRD Polman,sambil terus mengikuti proses yang akan dilakukan pemerintah pusat ke depan,” tandas mantan anggota DPR RI ini.

Wakil Ketua DPRD Sulbar Arifin Nurdin menyatakan, pihaknya hanya menunggu surat rekomendasi persetujuan gubernur untuk segera dibahas dalam rapat paripurna pembentukan Kabupaten Balanipa. Dia juga berharap Balanipa dapat segera didaftarkan di DepartemenDalamNegeri( Depdagri) dan DPR RI awal Juni mendatang.

“Jikasuratrekomendasidarigubernur telah diterima DPRD,segera kami tindak lanjuti melalui penjadwalan agenda paripurna persetujuan di Dewan.Bila perlu,Senin atau Selasa pekan depan telah bisa diparipurnakan secepatnya,” kata Ketua DPP PDK Sulbar ini. Ketua Komite Aksi Pejuang Pembentukan Kabupaten Balanipa (KAPP-KB) Mujirin M Yamin menyatakan, aspirasi masyarakat Balanipa tersebut saat ini mendekati titik akhir.

Dia berharap perjuangan itu segera dapat terwujud.“Respon dari aspirasi masyarakat Balanipa yang diberikan Bupati Polman, DPRD,Gubernur,dan DPRD Sulbar merupakan bentuk penyerapan keinginan rakyat yang luar biasa, rakyat Balanipa tentu sangat berterima kasih,”ungkapnya.

Diketahui, wilayah administratif Kabupaten Balanipa itu nanti meliputi tujuh kecamatan, yakni Campalagian, Balanipa, Luyo, Tinambung, Tutallu, Limboro, dan Tubi Taramanu (Tutar),dengan luas wilayah 963 kilometer persegi.Kemudian calon ibu kota kabupaten yang diusulkan,yakni Palippis, Desa Bala di Kecamatan Balanipa.

Berdasarkan data yang dihimpun SI, jumlah penduduk di tujuh kecamatan tersebut mencapai 166.429 jiwa. Unsur KAPP-KB yang menyerahkan SK persetujuan pembentukan Kabupaten Balanipa dari DPRD Polman yang telah diterbitkan 25 Mei lalu tersebut, di antaranya Mujirin M Yamin,Adi Arwan Alimin, Hasrat Kaimuddin, dan Lukman.Turut hadir Laskar Balanipa yang diwakili Adil Tambono dan Mahfud. (abdullah nicolha).

Pengumuman Tender Rp24 Miliar Ricuh

Tuesday, 26 May 2009
MAMUJU(SI) – Pengumuman pemenang hasil pelelangan tender proyek yang dilaksanakan di Kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) kemarin diwarnai kericuhan.

Pasalnya, puluhan kontraktor tidak menerima hasil tersebut dan menilai bahwa pengumuman itu syarat dengan praktek korupsi,kolusi, dan nepotisme (KKN). Pengumuman hasil tender proyek yang dikeluarkan DPU setempat adalah proyek pengairan sumber daya air senilai Rp24 miliar yang terbagi dalam 27 paket proyek.

Para kontraktor tersebut mengamuk dan mencabuti seluruh lembaran pengumuman yang ditempelkan pihak panitia tender sebagai bentuk protes menolak seluruh hasil tender. Penolakan tersebut akibat adanya dugaan kolusi pihak panitia tender dengan beberapa kontraktor tertentu.

Bahkan,kekecewaan para kontraktor semakin bertambah akibat tidak adanya pihak panitia tender yang masuk kantor dan memberikan penjelasan kepada mereka. “Itulah yang membuat kami tambah kecewa karena tidak ada satu pun panitia tender yang hadir,”kata salah seorang kontraktor, Nasir, 29,kemarin.

Dia mengatakan, pelaksanaan pengumuman tersebut harus dibatalkan karena pihak panitia tender dan Kepala Dinas PU Sulbar Nasruddin tidak mengklarifikasi beberapa kontraktor yang dianggap sebagai pemenang tender yang layak.“Hasil ini harus dibatalkan,” katanya.

Nasir mengaku,pihaknya akan melakukan aksi besar-besaran apabila tuntutan mereka untuk mengulang dan membatalkan hasil pemenang tidak diindahkan.Mereka bahkan mengancam akan mengusir Kadis PU Nasruddin dari wilayah Sulbar.

Selain akan berunjuk rasa besar- besaran, pihaknya juga akan melaporkan panitia tender bersama Kadis PU Sulbar ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Mamuju untuk diperiksa dan membuktikan bahwa pihak PU dalam melakukan proses tender itu syarat dengan KKN. “Yang jelas,kami akan melaporkan mereka ke kejaksaan,”ungkapnya.

Kadis PU Sulbar Nasruddin yang dihubungi kemarin menyatakan, pihaknya dalam melakukan proses tender telah bekerja sesuai mekanisme yang ada.Apabila masih ada yang menolak hasil tersebut, tidak akan mengubahnya lagi. “Kalau memang tudingan mereka benar dan dapat dibuktikan, kami bersedia membatalkan atau mengulang proses tender tersebut,” ujarnya kepada SI melalui ponselnya kemarin.

Yang pasti, banyak pihak yang akan kecewa dengan hasil tersebut karena banyaknya pendaftar, tapi yang diterima hanya sebagian karena disesuaikan dengan paket proyek. Data yang dihimpun SI,di DPU Sulbar terdapat sekitar 400 kontraktor yang mendaftar.

“Kalau kami terus mengikuti keinginan kontraktor untuk mengulang dan membatalkan pengumuman lelang, pekerjaan nanti terhambat. Jadi, kami harus terus melanjutkan proses sesuai ketentuan yang ada,”tuturnya. Nasruddin menyatakan,pihaknya bersedia mengulang dan membatalkan hasil pemenang jika hal itu (KKN) terbukti.

“Kalau memang ada bukti yang akurat, kami bersedia akan mengulang dan membatalkan nya.Yang jelas,kami akan tetap berjalan sesuai aturan yang ada karena mengingat waktu terus berjalan,”tandasnya. (abdullah nicolha).

Tuesday, May 26, 2009

Peneliti Asal Jepang Terpikat Kebudayaan Bahari Mandar

Monday, 25 May 2009
POLEWALI (SI) – Sejumlah peneliti asal Jepang yang melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia bagian tengah untuk mengenal kebudayaan bahari masyarakat setempat, khususnya cara pembuatan perahu, jenis-jenis perahu, dan teknik navigasi perahu yang digunakan pada masa lalu.

Peneliti muda kebudayaan bahari asal Polman Sulawesi Barat (Sulbar), Muhammad Ridwan Alimuddin, menyatakan bahwa awal perjalanan dimulai dari Tana Beru (Bulukumba), beberapa pulau di Selayar,Kepulauan Spermonde di Selat Makassar (Pangkep), Karama Pambusuang (Polewali Mandar), pesisir utara Gorontalo yang berbatasan dengan Sulawesi Utara, dan pesisir selatan tepatnya di perkampungan Bajau di Torisiaje.

“Pada Juli 2008 lalu, mereka (peneliti asal Jepang) juga berkunjung ke kampung nelayan yang terkenal dengan tradisi pemburuan ikan paus,di Lamalera,NTT,”katanya kepada SI di Mamuju,belum lama ini. Akhirnya survei yang dilakukan di beberapa daerah, kebudayaan bahari Mandar dipilih sebagai “alat” yang diharapkan dapat mewujudkan The Great Journey melalui laut.

“Dari perbandingan beberapa daerah yang dikunjungi, disimpulkan bahwa teknologi pembuatan perahu oleh orang Mandar masih banyak memiliki unsur tradisional yang juga digunakan pelayar-pelayar purba,setidaknya penggunaan layar. Meski demikian, itu tidak berarti teknologi dan teknik berlayar orang Mandar tidak mampu, malah sebaliknya,” ujarnya yang mendampingi peneliti Jepang ini.

Informasi yang dihimpun SI, hal tersebut juga berdasarkan beberapa referensi buku, masukan dari kolega Prof Sekino di Jepang, dan ahli perahu Nusantara dan pengamatan di lapangan (praktek berlayar bersama sandeq),kebudayaan maritim Mandarlah yang bisa mewujudkan cita-cita tapak tilas penyebaran umat manusia melalui laut.

“Orang-orang Mandar masih menggunakan perahu layar untuk mengarungi lautan luas, perahu bercadik buatannya tangkas dan kuat, dan pelaut-pelautnya pun pemberani. Setidaknya itu tercermin dari event Sandeq Race yang hasil dokumentasinya dipelajari tim The Sea Great Journey.Mereka pun sempat menyaksikan salah satu etape Sandeq Race 2008,” ungkapnya.

Kegiatan itu merupakan bagian kegiatan proyek “gila”The Sea Great Journey: The Black Current Route (Perjalanan Besar: Rute Arus Hitam), yaitu ekspedisi laut dari Paparan Sunda ke Kepulauan Jepang yang dipimpin Profesor Sekino Yoshihara, guru besar Antropologi Budaya di Mushashino Art University,Tokyo, dan telah menulis lebih dari 40 buku.

Sekino Yoshihara adalah lulusan ilmu hukum dari Hitotsubashi pada 1975 dan kedokteran dari Universitas Yokohama City pada 1982. Saat ini selain sebagai dosen humaniora, juga bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit di pinggir Kota Tokyo. Profesor itu juga telah melakukan tapak tilas secara terbalik rute penyebaran umat manusia dari Chili di ujung selatan Amerika Selatan hingga ke Tanzania Afrika antara 1993–2002.

Kemudian, sejak 2004,dia juga telah menapaki jalur perjalanan darat manusia purba yang menuju Kepulauan Jepang. Lalu Semenanjung Korea selesai dia telusuri pada 2005. Hal itu dilakukan dengan berjalan kaki, bersepeda, kendaraan di salju yang ditarik binatang, dan dengan perahu kayak (khususnya ketika melintasi Selat Bering, antara Alaska dan Rusia).

Sekino dan anggota timnya menyiapkan diri jauh hari sebelumnya dan mengikutsertakan pelaut asli dari Mandar.Rute yang akan ditempuh adalah pesisir barat Sulawesi– Kalimantan Timur (secara resmi pelayaran akan dimulai di sini sebagai batas Paparan Sunda di bagian timur)–Malaysia–Filipina– Taiwan–Okinawa.

“Yah, tidak mungkin kita kembali hidup di zaman batu,tetapi peradaban saat ini juga sepenuhnya tidak dapat dikatakan lebih baik,” kata profesor asal Jepang Sekino Yoshihara. (abdullah nicolha).