Thursday, 22 January 2009
POLEWALI(SINDO) – Para petani di Kab Polman,Sulawesi Barat (Sulbar), diperkirakan merugi hingga Rp7 miliar.
Hal itu disebabkan ratusan hektare (ha) gagal panen pascabanjir bandang pada Sabtu (10/1) lalu. Ratusan lahan tersebut mengalami kerusakan berat setelah diterjang banjir bandang yang mengakibatkan kerugian bagi para petani di daerah tersebut merugi hingga miliaran rupiah.
“Kerugian yang kami alami pada sektor pertanian sekitar Rp7 miliar dan tersebar di semua lokasi banjir,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Polman Hasanuddin Kandatong kepada SINDO,kemarin. Dia mengaku, saat banjir bandang melanda Polman, ribuan lahan persawahan tergenang air.
Namun,setelah didatadandipantaulangsungke lapangan pada dua hari pascabanjir, sekitar 795 ha sawah mengalami kerusakan berat,bahkan mati.“Saat banjir hari pertama,banyak yang tergenang. Akan tetapi, setelah diteliti, 795 ha yang mengalami kerusakan berat, sementara 2.000-an ha lainnya masih dapat diperbaiki dan akan dapat berproduksi dengan baik.Jadi,2000-an ha itu hanya tergenang,”jelasnya.
Data yang dihimpun SINDO, lahan pertanian tersebut banyak terdapat di Kecamatan Polewali,Wonomulyo, dan Campalagian.Sementara untuk bidang peternakan juga mengalami kerugian sekitar Rp1,7 miliar. Pasalnya, hewan ternak di beberapa kecamatan yang dilanda banjir,mati terbawa arus air.
“Setelah kami mendata, kerugian sektor peternakan mencapai Rp1,7 miliar,” tuturnya. Peternak tersebut banyak terdapat di Kecamatan Alu, Limboro, Tinambung, dan Campalagian. Kunding, 41, salah seorang petani Campalagian menyatakan, akibat banjir bandang tersebut, pihaknya merugi sekitar Rp100-an juta karena padi yang akan segera dipanen tergenang air.
“Kami tidak bisa berbuat banyak karena hal ini bencana alam. Sekarang yang kami harapkan hanya bantuan pemerintah untuk membenahinya,” katanya.Sementarapetani di sekitar Bendungan Sekka- Sekka yang merupakan bendungan terbesar di Polman, kerugian petani di daerah tersebut tergolongbesar. Pasalnya, mereka mengaku,lahan mereka mengalami kerusakan berat akibattidakadanya airyangsaatini mengaliri sawah mereka.
Kerugian juga dialami Dinas Pendidikan (Diknas) Polman pascabanjir yang mencapai Rp2 miliar. Hal tersebut meliputi kerugian pada sektor pendidikan SD, yakni dari fisik sekolah, mebeler, dan bukubuku pelajaran. Begitu juga SMP dan SMA yang sebagian dari fisik dan fasilitas sekolah itu rusak akibat terjangan banjir bandang.
“Setelah dihitung-hitung, jumlah keseluruhan kerugian yang kami alami khusus pada sektor pendidikan mencapai Rp2 miliar, yakni dari fisik dan fasilitas sekolah,” papar Kepala Dinas Pendidikan Polman Najib A Madjid.
Menurut dia, pihaknya telah melaporkan hasil estimasi kerugian tersebut kepada Bupati Polman Ali Baal Masdar dan telah diserahkan ke pemerintah pusat untuk ditindaklanjuti. “Hasil penghitungan itu telah kami selesaikan dan diserahkan bahkan pak bupati sudah ke Jakarta untuk melaporkan masalah tersebut, ”jelasnya. (abdullah nicolha)
Thursday, January 22, 2009
Warga Masih Berharap Uluran Tangan Dermawan
Thursday, 22 January 2009
Polewali.Pagi itu tanah di Desa Petoosang Kecamatan Alu kembali basah,terlihat lumpur-lumpur yang sejak sepekan lalu telah mengeras,kembali meleleh sedikit demi sedikit.
SEAKAN ingin kembali mengulang kisah mengerikan yang tertoreh bagi 1000-an warga Petoosang dan sekitarnya. Hujan yang kembali membasahi pemukiman warga yang saat ini berubah menjadi tenda-tenda darurat pasca banjir membuat mereka cemas.
Pasalnya, hujan yang turun malam itu cukup deras dan disertai angin kencang, tetapi ketegangan mereka tidak berlangsung lama karena hujan malam itu hanya turun beberapa menit saja sehingga kecemasan warga akan meluapnya kembali sungai Petoosang hilang. Saat ini, ratusan orang korban banjir yang kehilangan tempat tinggal terpaksa harus tinggal ditendatenda pengungsian,sementara sebagian lainnya memilih tinggal di rumah sanak keluarganya.
Kendati telah mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat yakni tempat pengungsian yang layak agar para korban banjir tersebut tidak terserang penyakit. Mereka tetap ingin tinggal di lokasi rumahnya kini telah rata dengan tanah. Sementara Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh berjanji, pihaknya dalam waktu dekat akan mengupayakan penampungan sementara yang lebih refresentatif di lokasi yang lebih layak dan aman.
Lokasi penderian tenda tersebut sebelumnya merupakan perkampungan yang padat karena juga sebagai bagian dari pasar Kecamatan Alu. ”Memang ada bantuan pemerintah yakni tempat yang lebih layak untuk mengungsi tetapi kami tetap ingin tinggal di lokasi rumah kami yang dulu.
Kami merasa berat hati meninggalkannya karena sudah puluhan tahun kami tinggal disini, biarlah hanya tenda saja sambil menunggu lokasi ini dibenahi,” kata salah seorang warga Petoosang Syamsul ,42, kepada SINDO,kemarin.
Para korban banjir yang tersebar hampir di seluruh wilayah Polewali Mandar saat ini hanya menanti bantuan dari semua pihak untuk bertahan hidup di tengah masa sulit yang mereka hadapi, banjir bandang tersebut telah menghancurkan semua harta benda mereka, bahkan mereka tidak sempat mengamankan pakaian yang tersisah hanya baju yang melekat di badan mereka saat itu.
”Semuanya habis terbawa arus, tidak ada yang sempat kami ambil, hanya baju yang kita pakai saja yang tertinggal,” tutur Syamsul dengan nada haru. Selain bahan makanan, bantuan berupa pakaian bekas juga diberikan kepada korban banjir. Bahkan, saat pakaian-pakaian tersebut dibagikan, karena takut tidak dapat bagian, para korban banjir langsung berebut untuk memilih pakaian mana yang cocok di badan mereka.
”Hal ini terpaksa dilakukan karena kami tidak memiliki apa-apa lagi semuanya habis terbawa arus,” kata Rahma ,30, warga Petoosang yang ditemui,kemarin. Dia menyatakan, semua warga saat ini hanya memerlukan bantuan dari semua pihak baik dari pemerintah atau pun dermawan yang terketuk hatinya untuk memberikan bantuan, karena tanpa bantuan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
”Rumah hancur, harta benda sudah habis,pakaian pun juga tidak ada, yang jelas kami sangat memerlukan bantuan, apa saja yang dapat membuat kami senang dan bisa bertahan hidup,”tuturnya. Pemerintah Kabupaten Polman sendiri dalam penanganan pasca banjir tersebut telah menyalurkan bantuannya baik berupa, beras, mie instan, air mineral, obat-obatan dan pakaian bekas.
Begitu juga dengan Pemerintah provinsi Sulbar juga turut memberikan bantuan yang serupa yang diserahkan langsung oleh Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh beberapa waktu lalu,hal serupa juga dilakukan oleh jajaran legislator Sulbar, serta pemerintah Kabupaten Majene dan jajaran kepolisin setempat juga turut memberikan bantuan sebagai ungkapan turut prihatin atas musibah tersebut.
Bahkan, untuk menyalurkan bantuan bagi korban banjir yang hingga saat ini masih terisolir pemkab setempat menyalurkannya melalui jalur udara (helikopter) yang merupakan bantuan dari wakil Presiden Jusuf Kalla untuk korban banjir di daerah tersebut.
Data yang dihimpun SINDO, dari Dinas Kesehatan Polman menyatakan bahwa,hingga saat ini pihaknya telah berhasil melakukan pendataan bagi korban banjir yang terserang penyakit yakni mencapai 3.000- an orang.
”Yang berhasil kami data hingga saat ini adalah sekitar 3.000-an korban banjir yang terserang penyakit seperti gatal-gatal dan demam, data itu kami ambil dari mereka yang berobat pada tim medis di setiap lokasi banjir,” kata Kepala Dinas Kesehatan Polman dr Achmad Azis.
Banjir bandang yang melanda daerah Polewali Mandar 10 Januari lalu itu seakan merampas semua yang dimiliki warga setempat, betapa tidak, rumah satu-satunya yang mereka miliki, ladang, kebun, bahkan harta benda lainnya kini hancur dan hilang semua yang tersisah hanya puing reruntuhan dan kenangan pahit yang tak akan pernah mereka lupakan. Sementara untuk rumah penduduk yang terkena terjangan banjir, tercatat 566 hanyut, 1.571 rusak berat, dan 3.858 rusak ringan. (abdullah nicolha)
Polewali.Pagi itu tanah di Desa Petoosang Kecamatan Alu kembali basah,terlihat lumpur-lumpur yang sejak sepekan lalu telah mengeras,kembali meleleh sedikit demi sedikit.
SEAKAN ingin kembali mengulang kisah mengerikan yang tertoreh bagi 1000-an warga Petoosang dan sekitarnya. Hujan yang kembali membasahi pemukiman warga yang saat ini berubah menjadi tenda-tenda darurat pasca banjir membuat mereka cemas.
Pasalnya, hujan yang turun malam itu cukup deras dan disertai angin kencang, tetapi ketegangan mereka tidak berlangsung lama karena hujan malam itu hanya turun beberapa menit saja sehingga kecemasan warga akan meluapnya kembali sungai Petoosang hilang. Saat ini, ratusan orang korban banjir yang kehilangan tempat tinggal terpaksa harus tinggal ditendatenda pengungsian,sementara sebagian lainnya memilih tinggal di rumah sanak keluarganya.
Kendati telah mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat yakni tempat pengungsian yang layak agar para korban banjir tersebut tidak terserang penyakit. Mereka tetap ingin tinggal di lokasi rumahnya kini telah rata dengan tanah. Sementara Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh berjanji, pihaknya dalam waktu dekat akan mengupayakan penampungan sementara yang lebih refresentatif di lokasi yang lebih layak dan aman.
Lokasi penderian tenda tersebut sebelumnya merupakan perkampungan yang padat karena juga sebagai bagian dari pasar Kecamatan Alu. ”Memang ada bantuan pemerintah yakni tempat yang lebih layak untuk mengungsi tetapi kami tetap ingin tinggal di lokasi rumah kami yang dulu.
Kami merasa berat hati meninggalkannya karena sudah puluhan tahun kami tinggal disini, biarlah hanya tenda saja sambil menunggu lokasi ini dibenahi,” kata salah seorang warga Petoosang Syamsul ,42, kepada SINDO,kemarin.
Para korban banjir yang tersebar hampir di seluruh wilayah Polewali Mandar saat ini hanya menanti bantuan dari semua pihak untuk bertahan hidup di tengah masa sulit yang mereka hadapi, banjir bandang tersebut telah menghancurkan semua harta benda mereka, bahkan mereka tidak sempat mengamankan pakaian yang tersisah hanya baju yang melekat di badan mereka saat itu.
”Semuanya habis terbawa arus, tidak ada yang sempat kami ambil, hanya baju yang kita pakai saja yang tertinggal,” tutur Syamsul dengan nada haru. Selain bahan makanan, bantuan berupa pakaian bekas juga diberikan kepada korban banjir. Bahkan, saat pakaian-pakaian tersebut dibagikan, karena takut tidak dapat bagian, para korban banjir langsung berebut untuk memilih pakaian mana yang cocok di badan mereka.
”Hal ini terpaksa dilakukan karena kami tidak memiliki apa-apa lagi semuanya habis terbawa arus,” kata Rahma ,30, warga Petoosang yang ditemui,kemarin. Dia menyatakan, semua warga saat ini hanya memerlukan bantuan dari semua pihak baik dari pemerintah atau pun dermawan yang terketuk hatinya untuk memberikan bantuan, karena tanpa bantuan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
”Rumah hancur, harta benda sudah habis,pakaian pun juga tidak ada, yang jelas kami sangat memerlukan bantuan, apa saja yang dapat membuat kami senang dan bisa bertahan hidup,”tuturnya. Pemerintah Kabupaten Polman sendiri dalam penanganan pasca banjir tersebut telah menyalurkan bantuannya baik berupa, beras, mie instan, air mineral, obat-obatan dan pakaian bekas.
Begitu juga dengan Pemerintah provinsi Sulbar juga turut memberikan bantuan yang serupa yang diserahkan langsung oleh Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh beberapa waktu lalu,hal serupa juga dilakukan oleh jajaran legislator Sulbar, serta pemerintah Kabupaten Majene dan jajaran kepolisin setempat juga turut memberikan bantuan sebagai ungkapan turut prihatin atas musibah tersebut.
Bahkan, untuk menyalurkan bantuan bagi korban banjir yang hingga saat ini masih terisolir pemkab setempat menyalurkannya melalui jalur udara (helikopter) yang merupakan bantuan dari wakil Presiden Jusuf Kalla untuk korban banjir di daerah tersebut.
Data yang dihimpun SINDO, dari Dinas Kesehatan Polman menyatakan bahwa,hingga saat ini pihaknya telah berhasil melakukan pendataan bagi korban banjir yang terserang penyakit yakni mencapai 3.000- an orang.
”Yang berhasil kami data hingga saat ini adalah sekitar 3.000-an korban banjir yang terserang penyakit seperti gatal-gatal dan demam, data itu kami ambil dari mereka yang berobat pada tim medis di setiap lokasi banjir,” kata Kepala Dinas Kesehatan Polman dr Achmad Azis.
Banjir bandang yang melanda daerah Polewali Mandar 10 Januari lalu itu seakan merampas semua yang dimiliki warga setempat, betapa tidak, rumah satu-satunya yang mereka miliki, ladang, kebun, bahkan harta benda lainnya kini hancur dan hilang semua yang tersisah hanya puing reruntuhan dan kenangan pahit yang tak akan pernah mereka lupakan. Sementara untuk rumah penduduk yang terkena terjangan banjir, tercatat 566 hanyut, 1.571 rusak berat, dan 3.858 rusak ringan. (abdullah nicolha)
Limbah Minyak Cemari Pantai
Wednesday, 21 January 2009
MAJENE(SINDO) – Ratusan nelayan di Desa Pellattuang, Kecamatan Tammerodo, Kabupaten Majene,Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar),terpaksa tidak melaut.
Alasannya, mereka diresahkan dengan adanya limbah minyak yang mencemari pantai di daerah tersebut. Mereka memilih tidak melaut karena limbah minyak di perairan Pellattoang meresahkan para nelayan. Apabila limbah tersebut mengenai perahu, para nelayan harus mencucinya dengan minyak tanah.
“Kami malas mencari ikan kalau keadaan seperti ini karena perahu harus dicuci dengan minyak tanah kalau terkena limbah baru bisa hilang,” kata salah seorang nelayan setempat Kamaruddin, 40, kepada SINDO, kemarin. dia bersama nelayan yang lain sudah lima hari tidak melaut karena harus bersusahpayah membersihkan perahu setelah terkena limbah tersebut.“
Cuaca di laut sangat cerah, tetapi kami sangat meresahkan limbah tersebut.Terpaksa kami memilih memarkir perahu di pantai dan mencari kegiatan lain hingga limbah itu hilang,”ungkapnya. Dengan adanya limbah minyak tersebut ratusan nelayan dirugikan karena selama lima hari terakhir ini tidak mendapatkan pemasukan seperti hari-hari biasanya.
“Biasanya kami dapat ikan dengan harga Rp500.000 hingga Rp1 juta, tapi sekarang dengan kerja sampingan (bertani), tidak dapat apa-apa kecuali biaya makan,”tandasnya. Hal senada dikatakan Yusran, 35,yang menyatakan, dengan adanya limbah tersebut warga khawatir jika nanti limbah minyak itu membahayakan warga sekitar, misalnya terserang penyakit.
“Selain mengurangi pendapatan para nelayan limbah tersebut juga dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi warga, yakni terserang penyakit,”jelasnya. Apalagi, pantai tersebut merupakan tempat bermain bagi anak-anak sekitar.
Hal itu perlu segera mendapat perhatian pemerintah setempat untuk segera dibenahi agar laut kami, khususnya di perairan Majene tidak tercemar limbah minyak. Dari penuturan warga setempat,limbah tersebut tidak diketahui asalnya dan kapal jenis apa karena warga mengetahui hal itu saat hendak melaut.
“Jadi,kami tidak tahu asal limbah minyak ini karena saat ditemukan tidak ada kapal yang berlabuh saat itu. Jenisnya pun belum diketahui pasti yang jelas kalau terkena perahu baru pibisa hilang kalau pakai minyak tanah,”papar nelayan yang lain Hamzah, 42, di Majene kemarin.
Bupati Majene Kalma Katta yang dikonfirmasi terkait pencemaran pantai itu mengaku, baru mengetahui masalah tersebut dan berjanji akan langsung meninjau ke lokasi tersebut. ”Saya baru mengetahui hal itu dari rekan-rekan, Insya Allah, hari ini (Kamis 22/1),kami akan meninjau ke Pantai Pellattoang,”ujarnya.
Menurut Bupati,pihaknya juga akan mengambil sampel limbah tersebut untuk diteliti. Sebab, hal itu akan membahayakan tumbuhan di sekitar dan otomatis akan mengganggu aktivitas warga setempat. ”Ini merupakan satu masalah yang harus segera diatasi, ”tandasnya. (abdullah nicolha)
MAJENE(SINDO) – Ratusan nelayan di Desa Pellattuang, Kecamatan Tammerodo, Kabupaten Majene,Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar),terpaksa tidak melaut.
Alasannya, mereka diresahkan dengan adanya limbah minyak yang mencemari pantai di daerah tersebut. Mereka memilih tidak melaut karena limbah minyak di perairan Pellattoang meresahkan para nelayan. Apabila limbah tersebut mengenai perahu, para nelayan harus mencucinya dengan minyak tanah.
“Kami malas mencari ikan kalau keadaan seperti ini karena perahu harus dicuci dengan minyak tanah kalau terkena limbah baru bisa hilang,” kata salah seorang nelayan setempat Kamaruddin, 40, kepada SINDO, kemarin. dia bersama nelayan yang lain sudah lima hari tidak melaut karena harus bersusahpayah membersihkan perahu setelah terkena limbah tersebut.“
Cuaca di laut sangat cerah, tetapi kami sangat meresahkan limbah tersebut.Terpaksa kami memilih memarkir perahu di pantai dan mencari kegiatan lain hingga limbah itu hilang,”ungkapnya. Dengan adanya limbah minyak tersebut ratusan nelayan dirugikan karena selama lima hari terakhir ini tidak mendapatkan pemasukan seperti hari-hari biasanya.
“Biasanya kami dapat ikan dengan harga Rp500.000 hingga Rp1 juta, tapi sekarang dengan kerja sampingan (bertani), tidak dapat apa-apa kecuali biaya makan,”tandasnya. Hal senada dikatakan Yusran, 35,yang menyatakan, dengan adanya limbah tersebut warga khawatir jika nanti limbah minyak itu membahayakan warga sekitar, misalnya terserang penyakit.
“Selain mengurangi pendapatan para nelayan limbah tersebut juga dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi warga, yakni terserang penyakit,”jelasnya. Apalagi, pantai tersebut merupakan tempat bermain bagi anak-anak sekitar.
Hal itu perlu segera mendapat perhatian pemerintah setempat untuk segera dibenahi agar laut kami, khususnya di perairan Majene tidak tercemar limbah minyak. Dari penuturan warga setempat,limbah tersebut tidak diketahui asalnya dan kapal jenis apa karena warga mengetahui hal itu saat hendak melaut.
“Jadi,kami tidak tahu asal limbah minyak ini karena saat ditemukan tidak ada kapal yang berlabuh saat itu. Jenisnya pun belum diketahui pasti yang jelas kalau terkena perahu baru pibisa hilang kalau pakai minyak tanah,”papar nelayan yang lain Hamzah, 42, di Majene kemarin.
Bupati Majene Kalma Katta yang dikonfirmasi terkait pencemaran pantai itu mengaku, baru mengetahui masalah tersebut dan berjanji akan langsung meninjau ke lokasi tersebut. ”Saya baru mengetahui hal itu dari rekan-rekan, Insya Allah, hari ini (Kamis 22/1),kami akan meninjau ke Pantai Pellattoang,”ujarnya.
Menurut Bupati,pihaknya juga akan mengambil sampel limbah tersebut untuk diteliti. Sebab, hal itu akan membahayakan tumbuhan di sekitar dan otomatis akan mengganggu aktivitas warga setempat. ”Ini merupakan satu masalah yang harus segera diatasi, ”tandasnya. (abdullah nicolha)
Warga Mulai Diserang Penyakit
Wednesday, 21 January 2009
POLEWALI(SINDO) – Warga korban banjir bandang di Kabupaten Polewali Mandar (Polman),Sulawesi Barat (Silbar),Sabtu (10/1) lalu,mulai terserang penyakit demam dan gatal-gatal.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Polman, sekitar 3.000- an warga korban banjir mulai diserang penyakit dan hampir menyebar di seluruh wilayah banjir. “Dari data kami, ada 3.000 orang lebih yang terserang penyakit demam dan gatal- gatal,” kata Kepala Dinas Kesehatan Polman dr Achmad Azis kepada SINDO,kemarin.
Menurut dia,pihaknya bersama tim gabungan berupaya memberikan penanganan awal terhadap penyebaran penyakit pascabanjir.Sebab,penyakit akibat genangan air biasanya rentan menyerang. “Kami telah melakukan sanitasi, pengurasan air sumur, yang dianggap tempat bersarangnya penyakit,”tuturnya.
Penanganantersebutmerupakan gambaran bahwa pihak Dinkes memberikan pelayan kesehatan kepada masyarakat. Pihaknya selain memberikan pengobatan, juga memberikan petunjuk agar masyarakat dapat menjaga kebersihan, khususnya saat mereka buang air besar (BAB).
Masyarakat menggunakan tempat yang telah disediakan atau memilih tempat yang lebih wajar agar terhindar diare. “Dampak tersebut akan timbul penyakit diare. Karena itu, kami minta memilih tempat yang representatif untuk membuang hajat jangan di sembarang tempat karena akan berdampak pada penyakit,” jelasnya.
Achmad juga menyatakan, pihak tim medis yang ditempatkan di setiap posko penanganan banjir banyak menemukan warga yang terserang demam dan gatal-gatal. Menurut dia, dalam tiap lima hari mengevaluasi setiap posko banjir untuk lebih memaksimalkan pelayanan.
“Pengerahan personil di setiap lokasi banjir dilihat dari kebutuhan, begitu juga dengan obatobatan,” tandasnya. Di Kecamatan Alu, yang merupakan daerah terparah yang terkena bencana banjir, sekitar 100-an lebih rumah para penduduk rata dengan tanah. Sementara yang tampak saat ini adalah tendatenda putih sebagai pengganti tempat para korban yang kehilangan tempat tinggal.
Data yang dihimpun SINDO di posko induk bencana banjir, kerugian materiil akibat banjir bandang tersebut tercatat puluhan ribu hektare (ha) sawah dan ribuan ha tambak hancur,dan sejumlah jembatan putus.
Sementara untuk rumah penduduk yang terkena terjangan banjir, tercatat 566 hanyut, 1.571 rusak berat,dan 3.858 rusak ringan. Wakil Bupati Polman Nadjamuddin Ibrahim menyatakan, pihaknya melakukan penanganan secara cepat agar penyebaran penyakit yang ditimbulkan bencana itu tidak meluas.
“Kami akan terus berupaya menanggulangi bencana ini dalam waktu cepat semaksimal mungkin,”ucapnya. Pantauan SINDO juga menyebutkan, di sebagian besar lokasi banjir tersebut, masih terlihat material banjir, berupa kayu gelondongan, lumpur yang masih bertumpuk dan masih menghalangi warga.
Begitu juga reruntuhan rumah yang hancur akibat hantaman banjir yang belum dapat dibenahi. Hal tersebut dilakukan, lantaran minimnya alat berat yang akan digunakan untuk mengangkut material banjir yang melanda Polman awal Januari lalu.
Terkait banyaknya kerugian material akibat banjir yang melanda Polman beberapa waktu lalu,Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh yang dihubungi kemarin menyatakan, hingga saat ini belum dapat memastikan kerugian yang ditimbulkan.
Pihaknya sudah meminta Bupati Polman Ali Baal Masdar bersama jajarannya untuk menghitung kerugian yang timbul akibat banjir bandang ini secara teliti. “Kami belum bisa memastikan kerugian akibat banjir ini karena harus dihitung dengan teliti.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat dan paling lambat dua hari ke depan, perhitungan jumlah kerugian akibat banjir ini sudah bisa dikeluarkan,”jelasnya. (abdullah nicolha)
POLEWALI(SINDO) – Warga korban banjir bandang di Kabupaten Polewali Mandar (Polman),Sulawesi Barat (Silbar),Sabtu (10/1) lalu,mulai terserang penyakit demam dan gatal-gatal.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Polman, sekitar 3.000- an warga korban banjir mulai diserang penyakit dan hampir menyebar di seluruh wilayah banjir. “Dari data kami, ada 3.000 orang lebih yang terserang penyakit demam dan gatal- gatal,” kata Kepala Dinas Kesehatan Polman dr Achmad Azis kepada SINDO,kemarin.
Menurut dia,pihaknya bersama tim gabungan berupaya memberikan penanganan awal terhadap penyebaran penyakit pascabanjir.Sebab,penyakit akibat genangan air biasanya rentan menyerang. “Kami telah melakukan sanitasi, pengurasan air sumur, yang dianggap tempat bersarangnya penyakit,”tuturnya.
Penanganantersebutmerupakan gambaran bahwa pihak Dinkes memberikan pelayan kesehatan kepada masyarakat. Pihaknya selain memberikan pengobatan, juga memberikan petunjuk agar masyarakat dapat menjaga kebersihan, khususnya saat mereka buang air besar (BAB).
Masyarakat menggunakan tempat yang telah disediakan atau memilih tempat yang lebih wajar agar terhindar diare. “Dampak tersebut akan timbul penyakit diare. Karena itu, kami minta memilih tempat yang representatif untuk membuang hajat jangan di sembarang tempat karena akan berdampak pada penyakit,” jelasnya.
Achmad juga menyatakan, pihak tim medis yang ditempatkan di setiap posko penanganan banjir banyak menemukan warga yang terserang demam dan gatal-gatal. Menurut dia, dalam tiap lima hari mengevaluasi setiap posko banjir untuk lebih memaksimalkan pelayanan.
“Pengerahan personil di setiap lokasi banjir dilihat dari kebutuhan, begitu juga dengan obatobatan,” tandasnya. Di Kecamatan Alu, yang merupakan daerah terparah yang terkena bencana banjir, sekitar 100-an lebih rumah para penduduk rata dengan tanah. Sementara yang tampak saat ini adalah tendatenda putih sebagai pengganti tempat para korban yang kehilangan tempat tinggal.
Data yang dihimpun SINDO di posko induk bencana banjir, kerugian materiil akibat banjir bandang tersebut tercatat puluhan ribu hektare (ha) sawah dan ribuan ha tambak hancur,dan sejumlah jembatan putus.
Sementara untuk rumah penduduk yang terkena terjangan banjir, tercatat 566 hanyut, 1.571 rusak berat,dan 3.858 rusak ringan. Wakil Bupati Polman Nadjamuddin Ibrahim menyatakan, pihaknya melakukan penanganan secara cepat agar penyebaran penyakit yang ditimbulkan bencana itu tidak meluas.
“Kami akan terus berupaya menanggulangi bencana ini dalam waktu cepat semaksimal mungkin,”ucapnya. Pantauan SINDO juga menyebutkan, di sebagian besar lokasi banjir tersebut, masih terlihat material banjir, berupa kayu gelondongan, lumpur yang masih bertumpuk dan masih menghalangi warga.
Begitu juga reruntuhan rumah yang hancur akibat hantaman banjir yang belum dapat dibenahi. Hal tersebut dilakukan, lantaran minimnya alat berat yang akan digunakan untuk mengangkut material banjir yang melanda Polman awal Januari lalu.
Terkait banyaknya kerugian material akibat banjir yang melanda Polman beberapa waktu lalu,Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh yang dihubungi kemarin menyatakan, hingga saat ini belum dapat memastikan kerugian yang ditimbulkan.
Pihaknya sudah meminta Bupati Polman Ali Baal Masdar bersama jajarannya untuk menghitung kerugian yang timbul akibat banjir bandang ini secara teliti. “Kami belum bisa memastikan kerugian akibat banjir ini karena harus dihitung dengan teliti.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat dan paling lambat dua hari ke depan, perhitungan jumlah kerugian akibat banjir ini sudah bisa dikeluarkan,”jelasnya. (abdullah nicolha)
Tuesday, January 20, 2009
Kerusakan Hutan 26.000 Ha
Tuesday, 20 January 2009
POLEWALI(SINDO) – Kerusakan hutan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), mencapai 26.000 hektare (ha), pascabanjir di enam kecamatan.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Polman Ismail AM menyatakan, banjir bandang yang terjadi di enam kecamatandiPolmanpadaSabtu (10/1) lalu, disebabkan kritisnya dua hulu sungai yang bermuara ke daerah Polman.
“Kondisi hutan di kedua hulu sungai yang masing-masing berhulu di Majene dan Mamasa ini, rusak akibat penebangan liar, perkebunan, dan aktivitas petani ladang yang berpindah-pindah,” katanya kepada SINDO,kemarin. Dia mengungkapkan, hal tersebut sesuai data pada 2003, yakni luas areal hutan yang rusak mencapai 26.000 ha dari total luas hutan Polman seluas 121.450 ha.
Terakhir kali mendata luas areal hutan yang rusak pada 2003 lalu, hingga kini pemerintah setempat belum mendata luas areal yang rusak, sementara dipastikan laju kerusakan hutan meningkat hingga mencapai 30%. Salah satu penyebabnya, adanya aktivitas penebangan liar di kawasan hutan tersebut, sebagian berubah jadi kebun, dan para petani ladang yang berpindah-pindah.
Sementara dua sungai yang bermuara di Polman, yakni Sungai Mandar yang berhulu di Ulu Manda, Majene, dan Sungai Maloso yang berhulu di Mamasa.Kondisi hulu kedua sungai itu saat ini kritis dan ditambah kerusakan hutan,” jelasnya.
Akibatnya, kondisi di enam kecamatan yang dilanda banjir di Polewali Mandar yakni Kecamatan Alu,Tinambung, Limboro,Tutar,Mapilli, dan Wonomulyo. Dari bencana banjir yang melanda tersebut, bukan hanya air, melainkan disertai lumpur pekat dan material berupa kayu gelondongan,kayu batangan, dan pohon besar dalam jumlah yang sangat besar sehingga lumpuhnya aktivitas warga setempat.
Baharuddin, 48, warga Petoosang mengaku, selama puluhan tahun tinggal di daerah itu, bencana banjir bandang yang terjadi awal Januari tersebut adalah yang pertama kali. “Sekitar 1980-an bencana banjir pernah melanda daerah ini,tapi yang datang hanya air. Begitu pun pada 1990-an, hanya air yang menggenang dan tidak lama, bahkan dampaknya tidak separah ini,”paparnya.
Dia juga menyebutkan, sebagian besar warga setempat tidak meninggalkan rumah karena mereka berpikir banjir tidak separah ini. Hanya disebabkan hujan selama dua hari. “Kami pikir banjir yang terjadi kemarin banjir biasa.Maka,kami tidak terlalu menghiraukan barangbarang,” tandasnya.
Pantauan SINDO di lokasi banjir terparah, yaitu di Kecamatan Alu,warga setempat hingga kemarin masih kesulitan membersihkan material kayu yang terbawa bersama arus air serta lumpur yang sudah keras dan masih menggenangi rumah-rumah warga, sekolah,puskesmas,dan lainnya.
Sementara batang-batang kayu dan pohon besar dan tumpukannya hingga mencapai ketinggian lebih dua meter,membuat warga tidak bisa berbuat banyak, selain mengharapkan bantuan alat berat dan tenaga manusia. “Untuk membersihkan lumpur pun sulit kami lakukan karena tidak ada tempat pembuangan,” kata Kepala RT I Lingkungan Petoosang Juhu kepada SINDO.
Pemprov Sulbar mengakui bahwa fasilitas alat berat masih sangat minim untuk melakukan pembenahan, bahkan beberapa unit telah disediakan di lokasi yang rawan longsor.“ Kami berharap pemerintah pusat dapat menyumbang alat berat agar material yang menumpuk pascabanjir dapat dibersihkan sehingga aktivitas warga pulih kembali,”tutur Kepala Biro Humas Pemprov Sulbar Khaeruddin Anas.
Sementara itu,Polres Polman pada Senin (19/1) malam lalu, berhasil menyita tiga truk yang bermuatan kayu ilegal yang diduga berasal dari kawasan hutan Polman. Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Polman AKP Musallah menyatakan,selama ini telah menyita kayu ilegal.
Bahkan, Senin malam lalu, pihaknya mengamankan tiga truk pengangkut kayu yang tidak memiliki surat-surat lengkap.“ Tidak tahu bisa disebut banyak atau tidak,yang jelas adanya penangkapan kayu ilegal,” ucap Kasat Reskrim Polres Polman AKP Musalla melalui ponselnya,kemarin. (abdullah nicolha)
POLEWALI(SINDO) – Kerusakan hutan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), mencapai 26.000 hektare (ha), pascabanjir di enam kecamatan.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Polman Ismail AM menyatakan, banjir bandang yang terjadi di enam kecamatandiPolmanpadaSabtu (10/1) lalu, disebabkan kritisnya dua hulu sungai yang bermuara ke daerah Polman.
“Kondisi hutan di kedua hulu sungai yang masing-masing berhulu di Majene dan Mamasa ini, rusak akibat penebangan liar, perkebunan, dan aktivitas petani ladang yang berpindah-pindah,” katanya kepada SINDO,kemarin. Dia mengungkapkan, hal tersebut sesuai data pada 2003, yakni luas areal hutan yang rusak mencapai 26.000 ha dari total luas hutan Polman seluas 121.450 ha.
Terakhir kali mendata luas areal hutan yang rusak pada 2003 lalu, hingga kini pemerintah setempat belum mendata luas areal yang rusak, sementara dipastikan laju kerusakan hutan meningkat hingga mencapai 30%. Salah satu penyebabnya, adanya aktivitas penebangan liar di kawasan hutan tersebut, sebagian berubah jadi kebun, dan para petani ladang yang berpindah-pindah.
Sementara dua sungai yang bermuara di Polman, yakni Sungai Mandar yang berhulu di Ulu Manda, Majene, dan Sungai Maloso yang berhulu di Mamasa.Kondisi hulu kedua sungai itu saat ini kritis dan ditambah kerusakan hutan,” jelasnya.
Akibatnya, kondisi di enam kecamatan yang dilanda banjir di Polewali Mandar yakni Kecamatan Alu,Tinambung, Limboro,Tutar,Mapilli, dan Wonomulyo. Dari bencana banjir yang melanda tersebut, bukan hanya air, melainkan disertai lumpur pekat dan material berupa kayu gelondongan,kayu batangan, dan pohon besar dalam jumlah yang sangat besar sehingga lumpuhnya aktivitas warga setempat.
Baharuddin, 48, warga Petoosang mengaku, selama puluhan tahun tinggal di daerah itu, bencana banjir bandang yang terjadi awal Januari tersebut adalah yang pertama kali. “Sekitar 1980-an bencana banjir pernah melanda daerah ini,tapi yang datang hanya air. Begitu pun pada 1990-an, hanya air yang menggenang dan tidak lama, bahkan dampaknya tidak separah ini,”paparnya.
Dia juga menyebutkan, sebagian besar warga setempat tidak meninggalkan rumah karena mereka berpikir banjir tidak separah ini. Hanya disebabkan hujan selama dua hari. “Kami pikir banjir yang terjadi kemarin banjir biasa.Maka,kami tidak terlalu menghiraukan barangbarang,” tandasnya.
Pantauan SINDO di lokasi banjir terparah, yaitu di Kecamatan Alu,warga setempat hingga kemarin masih kesulitan membersihkan material kayu yang terbawa bersama arus air serta lumpur yang sudah keras dan masih menggenangi rumah-rumah warga, sekolah,puskesmas,dan lainnya.
Sementara batang-batang kayu dan pohon besar dan tumpukannya hingga mencapai ketinggian lebih dua meter,membuat warga tidak bisa berbuat banyak, selain mengharapkan bantuan alat berat dan tenaga manusia. “Untuk membersihkan lumpur pun sulit kami lakukan karena tidak ada tempat pembuangan,” kata Kepala RT I Lingkungan Petoosang Juhu kepada SINDO.
Pemprov Sulbar mengakui bahwa fasilitas alat berat masih sangat minim untuk melakukan pembenahan, bahkan beberapa unit telah disediakan di lokasi yang rawan longsor.“ Kami berharap pemerintah pusat dapat menyumbang alat berat agar material yang menumpuk pascabanjir dapat dibersihkan sehingga aktivitas warga pulih kembali,”tutur Kepala Biro Humas Pemprov Sulbar Khaeruddin Anas.
Sementara itu,Polres Polman pada Senin (19/1) malam lalu, berhasil menyita tiga truk yang bermuatan kayu ilegal yang diduga berasal dari kawasan hutan Polman. Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Polman AKP Musallah menyatakan,selama ini telah menyita kayu ilegal.
Bahkan, Senin malam lalu, pihaknya mengamankan tiga truk pengangkut kayu yang tidak memiliki surat-surat lengkap.“ Tidak tahu bisa disebut banyak atau tidak,yang jelas adanya penangkapan kayu ilegal,” ucap Kasat Reskrim Polres Polman AKP Musalla melalui ponselnya,kemarin. (abdullah nicolha)
Subscribe to:
Posts (Atom)